Mengenai Berubah

Iyar
Iyar
Jul 27, 2017 · 3 min read

Man, malam ini lo ke mana?”, suara dari stall kamar mandi paling ujung

“Gua mau ke X2 sih.”, balas gua

“Boleh gabung gak? Gue lagi bingung mau ke mana.”

“Putus? Well, whatever floats your boat mate. Yuk.”

*suara nge-flush*


Pasti bingung apa korelasi putus dan mau main ke X2. Kalau gak bingung, pura-pura bingung aja biar gua tetep cerita.

Selama 26 tahun, gua gak sekali dua kali berurusan dengan hubungan percintaan. Mulai dari jatuh cinta, ditolak, sampai korban cat fishing kayaknya pernah gua rasain. Beberapa masih terasa manis sampai sekarang, sisanya kayak jelantah rengginang. But still, ain’t gonna forget those.

Cipete, Ciuman Pegang Te

Salah satu fase paling menarik saat jatuh cinta, adalah fase 3 bulan pertama atau yang biasa disebut fase anget-anget (bubur sumsum). Saat lo ngeliat pasangan lo kayak putri raja, meskipun lo-nya rakyat jelata. Saat nungguin mbengkel 4 jam rasanya kayak 5 menit. Dan bahkan momen-momen lo tidak menjadi diri lo sendiri dengan tujuan membuatnya kagum. Let’s admit it, we’ve all been to the last one.

Dan di sini cerita soal perubahan beneran dimulai. Panjang ya preambulenya.


Namanya Disamarkan. Pria berumur 29 tahun ini gua kenal dari media sosial segala kalangan (no Mastodon, you’re not edgy enough), Twitter. Tingginya lumayan tinggi, berkulit putih, dan bermata dua. Bar, klub, bahkan lokalisasi gak bakalan asing lagi buat lo kalau lo kenal dia. Kalau kata Pejuang Keadilan Sosial jaman sekarang, “Oh bajingan.”

Kurang lebih 7 bulan yang lalu, Disamarkan baru saja resmi berpacaran dengan seorang perempuan bernama Nama. Pacarnya cantik, jarinya lentik, sukanya batik, bikin pengen nyepik. Masih inget fase anget-anget (bubur sumsum) yang gua bilang di preambule? Nah, seperti itu pula yang terjadi pada Disamarkan.

“Man, Dragonfly gak nih? Invoice baru cair kan.”, tanya gua

“Duh sorry banget nih. Gue udah janji sama Nama gak clubbing lagi. Sorry banget man.”

“Tapi planning kita ke pila di puncak jadi kan?”

“…”

Ah I see. Yaudah gak papa. Let me know if you wanna change your mind.”

Sek asek

7 bulan kemudian, kami duduk di sebuah kedai sate di bilangan Senayan dengan tujuan ngilangin basian. Sembari menggigit sate Taichan yang rasanya gitu-gitu aja, gua membuka obrolan dengan Disamarkan.

Dude I don’t give a shit, but curious. Kenapa sih?

“Kenapa apanya?”

“Lo dulu kan tuh hobinya ngajakin gua clubbing tuh. Terus punya pacar, katanya mau berhenti tuh. Terus sekarang, jalan lagi. Kenapa sih?”

Disamarkan menghisap dalam-dalam Sampoerna Mild yang dipegangnya.

“Fyuuuh… Gue dari dulu sebenernya mau berenti kok. Kakak gue juga gak suka kan kalau gua pulang pulang teler juga. Dia minta gua buat benahin diri dan berubah.”

Okay, so your point?

My point is, nobody can change a person. That includes my sister. She can’t change me. Or in this case, my habit. But hear this, you can be a reason for a person to change. And that’s Nama to me.”

“Tapi bonding lo sama kakak lo bukannya lebih kuat daripada bonding lo sama Nama ya? And isn’t that enough to be the reason?”

That’s the thing man, I see no reason from my sister. And I think it is okay to find a reason from someone else.”

Di sini gua baru nyadar kalau gua salah. Kadang orang pengen berubah bukan karena mau bikin kagum pasangannya. Kadang mereka berubah ya karena mereka memang mau berubah. Dan menariknya lagi, kadang mereka yang mau berubah, belum menemukan alasannya untuk berubah.

Selamat menemukan alasan untuk berubah!
    Iyar

    Written by

    Iyar

    God was showing off when He made me. Email: ikhyarsetyautama@gmail.com.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade