Pacaran Beda Senggama
Maaf. Sebenernya judul cerita ini Pacaran Beda Agama. Biar click bait kayak media jaman sekarang aja.
Karena sebuah janji terhadap teman yang tengah dilarang berpacaran karena perbedaan agama, akhirnya di sini gua tuliskan kebingungan gua terhadap problematika yang nampaknya kerap terjadi di tanah air tercinta ini.
Suatu malam di sebuah flat yang belum terisi dengan TV, gua yang lagi fokus kerjain Editorial Plan (bentar lagi kelar bos, beneran), dikejutkan oleh getaran kencang dan repetitif yang ternyata bersumber dari ponsel pribadi gua. Notifikasi yang muncul karena adanya pesan baru di aplikasi WhatsApp, setidaknya membuat jantung gua berhenti berdetak 0.00000789 detik dikarenakan ketakutan gua diomelin flatmate yang sekaligus ibu kost gua. Namun, false alarm. Pesan baru di WhatsApp ternyata datang dari seorang perempuan berusia 21 tahun yang gua kenal melalui jejaring sosial bernama Twitter.
Yang mau ngatain gua om-om pemberdaya perempuan muda gua tabokin ya…
Pesan singkat yang menginformasikan kalau dia sedang ada di sekitaran tempat gua tinggal, langsung gua jawab dengan undangan untuk mampir dan ehe. Ehe aja biar kebacanya kayak yang gimana-gimana gitu.
Long story short, sampailah dia ke tempat gua tinggal. Dengan nana emesh dan kaos bau keringet bekas nge-gym, hampir aja gua peluk saking girangnya ketemuan. Untung bau kecut, jadi aja gak jadi.
Lama gak ketemu, ya kurang lebih 3 hari, kami saling meng-update kisah selama menjalani hidup masing-masing. Perbincangan yang awalnya hanya seputar film horor, akun twitter yang lagi rusuh, temennya yang lagi jomblo, dan bahkan pacar barunya mewarnai gelapnya malam. Detik demi detik larut menambah manisnya obrolan kami seputar kehidupan masing-masing. Hingga akhirnya, dia mulai mengantuk dan meminta segelas kopi, lalu gua bikinin kopi dengan larutan obat tidur agar supaya cerita ini jadi gimana gitu.
“Gue kenapa ya kalau di deket lo gak bisa kentut. Grogi gitu”, ucapnya sembari menghisap sebatang LA Ice Blast yang terbakar setengah
“Sampah lo emang.”, jawab gua sembari menghisap bau-bauan aneh yang gua duga adalah kentutnya
“Lo tau kan gua udah punya pacar?”
Gua pura pura mati
“Ye lo ngecengnya dulu kan pake numpang kosan gua segala. Sa aje kantong semar.”
“Iya, Yar. Jadi gini, nyokap gue gak setuju sama pacar gue.”
“E-do-do-e. Kalau sama gua setuju gak?”
“Enggak juga.”
Terima kasih atas segala dukungan dan motivasi yang pernah diberikan kepada saya. Dengan tulisan ini saya hanya ingin memberi tahu bahwa warisan sejumlah Pisau Dapur, 2 Mangkuk Plastik Hijau, Set Sendok-Garpu Giant, dan Bayfresh Lavender saya wariskan kepada flatmate saya.
“Okay. Let’s get serious. Jadi masalahnya apa?”, balas gua dengan tatapan macan biskuat
“Jadi, gue dan pacar gue sekarang… Beda agama, Yar.”, jawabnya lirih
“Okay. Lalu?”
“Iya. Pacar gue animisme. Sedangkan gue dan keluarga, dinamisme. Nyokap gak setuju.”
“Nah, lo sendiri gimana soal beda agama ini?”
“Gue gak masalah sama beda agama. I just don’t see a problem there.”
“Mantap soul. Pertanyaan selanjutnya, lo bakal nikah dalam waktu dekat?”
“Hell no. Gua bahkan gak yakin kalau gua mau nikah.”
“Jadi alasan nyokap lo menolak hubungan lo apa?”
“Sedikit ada alasan traumatis pada agama pasangan gue. Hal lainnya, ya dia gak mau kalau gua tau-tau pindah ke agama pacar gue.”
Now, I’m asking you guys to build the case. Seorang perempuan berusia 21 tahun yang belum yakin akan menikah sedang memiliki pacar berumur 22 tahun yang berbeda agama. Perbedaan ini tidak disetujui oleh ibu si perempuan karena adanya alasan traumatis dan juga ketakutan perpindahan agama.
Gua sendiri orangnya gak suka dibikin ribet karena gua sendiri lebih sering berpikir ribet. Ribet kan? So please don’t add such stuff inside my head.
“Lo bakal nikah dalam waktu dekat?”, adalah sebuah pertanyaan yang hampir selalu gua lemparkan jika ada pertanyaan yang berhubungan dengan pacaran beda agama. Kenapa? Karena sepengetahuan gua, pernikahan berbeda agama itu agak ribet persetujuan dokumen. Dan dari jawaban teman gua di atas, mari bersepakat kalau hal ini tidak lagi jadi perkara yang harus dipikirkan setidaknya dalam jangka waktu dekat ini.
Ya gak bisa. Itu kan tetep masalah! Harus dipikirin dari sekarang dong!
Okay Okay ~ Misalnya, perjalanan hidup berkata lain. Ternyata karena satu dan lain hal, pasangan berbeda agama ini harus menikah dalam waktu dekat. Lantas haruskah mereka menikah dengan agama yang sama? O tentu tidak. Om dan tante gua telah menikah lebih dari 30 tahunan. Sepanjang usia pernikahan itu, gak sekali dua kali gua lihat tante gua nemenin om gua ke gereja mengenakan kerudung. Om gua bahkan memiliki alarm adzan di ponsel pribadinya hanya untuk memastikan tante gua tidak ketinggalan shalat. Rumah mungil yang dihiasi ayat alkitab dan kaligrafi arab seolah bersautan mendoakan kehidupan indah bagi keduanya. Saat lebaran mereka menanak ketupat, dan saat natal terhidang kue jahe. Lalu kisah sedih karena menikah berbeda agamanya di mana?
Mari sedikit geser pertanyaan ke, ketakutan si ibu kalau-kalau temen gua pindah ke agama pacarnya. Sumpah ya. Temen gua gak dua-empat biji (harus genap) yang ngalamin hal kayak gini, dan gua pun pernah. Parahnya, gua masih belum bisa menerima pemikiran seperti di bawah ini.
Now imagine this. You are a self proclaimed pluralist. You say that you admire diversities. You say that you respect them all. Then there’s this friend who’s on your side, and because of his/ her own belief that he/ she wants to cross the line, and suddenly you see that the other side is not as cool as you so you have to hold his/ her decision. Why?
Gua sampe sekarang gak ngerti apa salahnya hubungan beda agama hingga akhirnya salah satunya pindah agama adalah sebuah kesalahan. Apakah pindah agama jadi sebuah kesalahan besar yang tidak mungkin diampuni lagi oleh manusia lainnya? Ataukah pindah agama akan mengurangi nilai lo sebagai manusia? Kata belief di atas gua bold bukan tanpa alasan. Gua yakin dalam sebuah hubungan sehat yang setara, keduanya dalam kondisi sadar dan tanpa tekanan. Jika salah satu pihak percaya kalau berpindah agama bukan sebuah tekanan dari pasangannya dan melakukannya secara sadar, lalu masalahnya di mana? Apakah berpindah agama itu salah? Ataukah itu hanya ego manusia yang ketakutan akan kehilangan umat?
Sumpah, gua kurang mabuk sampe hal kayak gini aja gua seriusin..
But hey. To each, their own. You may have your own personal opinion for this cause. Ain’t gonna say it’s wrong, so please enlighten me by kicking the comment section below. No matter what your opinion is, it will be appreciated.
I promise.
Okay, okay, I’ll try my best to appreciate it. Cheerio!
