You Don’t Have to Pretend

Kemacetan kota Jakarta di malam itu cukup membuat saya malu karena datang terlambat ke sebuah pertemuan berujung manis. Sebut saja Nutbrown, seorang perempuan yang belum lama saya kenal melalui sosial media.

Paras manis, senyum hangat, dan suara beratnya cukup membuyarkan bayangan saya mengenai dirinya yang tergambar di dunia maya. Rahang saya mendadak tegang, seolah sedang berusaha untuk menjaga tiap kata yang terlontar agar tetap baik. Tak cukup sampai di situ, isi kepala ikut riuh memilah hal-hal manis untuk diutarakan.


Waktu kian berlalu ketika bibir kami saling berbalas kata, bercerita tentang pribadi masing-masing. Kami, atau setidaknya saya, berusaha untuk mengorek sedalam mungkin informasi demi memecahkan asumsi yang ditangkap dari dunia maya. Di malam itu, saya belajar cukup banyak hal darinya.

Bukan hal baru bagi saya untuk bertemu orang-orang yang saya kenal di dunia maya. Tak jarang pula, dari setiap pertemuan yang berisikan hanya saya dan satu pihak lainnya, saya mencoba bertanya tentang pandangan pertama setelah akhirnya bertemu di dunia nyata.

“Kamu masih brondong banget yaa.”, jawab Nutbrown

EHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHE

“Kamu seperti seseorang yang sedang berusaha untuk terlihat mature.”, lanjutnya

Wait. Maksudnya gimana?”, balas saya

“Kamu seperti orang yang ingin terlihat dewasa. Padahal kamu tidak perlu melakukan hal seperti itu. Aku ngerti kalau kamu dituntut oleh norma sosial untuk menjadi seperti itu. Tapi aku sendiri gak papa kalaupun kamu kekanak-kanakkan. You don’t have to pretend.”, jelas Nutbrown


Sebuah penjelasan singkat dari Nutbrown cukup membuat saya berpikir malam itu. Tentang korelasi tuntutan publik, dan dampaknya terhadap pribadi seseorang. Di mana saya yakin semua orang pasti pernah merasakannnya.

Jika kamu masih bingung apa yang saya maksud, pernahkah kamu mendengar ucapan-ucapan semacam ini, “Laki-laki gak boleh cengeng” atau “Perempuan harus bersikap halus”? Hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dipaksakan dalam pribadi seseorang.

Apa salahnya jika seorang pria mengenakan pakaian dengan motif bunga dan menangis saat melihat film drama? Atau apa salahnya jika ada seorang perempuan dengan segala aksesoris hitam menonton konser Lamb of God? Apa salahnya jika saya selalu bermimpi untuk pergi ke Asteroid B-612? Apa salahnya menjadi diri sendiri?

You don’t have to pretend

It was indeed a fine night. Gelapnya dasar botol bir menyudahi perjumpaan kami di malam itu. Sebuah pelukan hangat memompa endorfin saya, mengembalikan segaris senyuman yang mungkin sempat bersembunyi.

Siapapun kamu, jika suatu hari nanti kita sempat berkenalan, berterima kasihlah pada Nutbrown. Karena ada satu hal yang pasti, yaitu saya akan mengawali perbincangan dengan:

Once when I was six years old I saw a magnificent picture in a book, called True Stories from Nature, about the primeval forest.
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.