You Should be Dating Me Instead (pt. 1)

“Are you dating someone?”
“No. Why should I?”
“Why shouldn’t you?”
“Would you?”

Sepasang muda-mudi duduk di sebuah bar di bilangan Kemang malam itu. Kombinasi antara teguk alkohol dan lampu yang temaram, semakin mengaburkan pandangan satu sama lain. Meski begitu masih keduanya saling bisa memprojeksikan satu sama lain dengan sangat jelas di dalam ingatan.

Pria yang masih mengenakan kemeja kantoran itu bernama Dave. Rambut keriting dan jambangnya menutupi kegusaran yang tengah dialaminya. Jari-jarinya memeluk erat segelas Whiskey Cola, dan matanya terpaku pada sesosok perempuan di hadapannya.

Lipstik merahnya tertinggal di bibir gelas Lychee Margarita. Nampak sesekali dia membetulkan rambut sebahunya, dan posisi kaca matanya. Terlihat pula bandul dari kalung emas yang mengitari lehernya bertuliskan Molly.

So how’s life, Dave?”, tanya Molly

Y’ know. Sama semua. Kerja, this and that. How’s yours?”, balas Dave

Everything seems to be on the right place! Mulai bulan depan aku akan pindah.”

Ah, that’s new. Pindah ke mana?”

Remember the small brick house you showed me back there in Prague?”

“Whoa! Aku kira kamu gak suka rumah tua.”

Things changed, Dave.”, jawab Molly sembari memperbaiki cincin yang bersarang di jari manisnya

Ah, I see. Do you want another glass? I think I need a couple more.”

Nope. I’m good.”

Dave mengangkat gelasnya, memberikan sebuah isyarat kepada pramusaji untuk menambahkan segelas lagi Whiskey Cola.

Tell me about you, Dave. It’s been years. Are you dating someone?”, tanya Molly

No. Why should I?”, balas Dave singkat

Why shouldn’t you?”

Would you?”

Keduanya terdiam. Saling memalingkan wajah, tak lagi saling beradu pandang, seolah tengah menutupi kegusaran. Segelas Whiskey Cola yang dibawa pramusaji memecah keheningan.

Thanks, mas.”, ucap Dave pada si pramusaji. “Moll, I didn’t mean it.”, lanjutnya

“Dave, we — no, you had the chance.”

I know. Sorry for bringing things up. I guess, I ruined everything, huh?”

“Dave, I think I need to go. I’ll see you around.”

Tanpa menunggu balasan dari Dave, Molly langsung berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Dave sendirian.


Jam menunjukkan pukul 01.27 malam saat Dave merebahkan diri diatas ranjangnya. Kumpulan foto dirinya dan Molly masih menempel rapi di sudut ruangan.

Should I tell her…”, pikirnya dalam hati

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.