Having BPD was like...

Mental saya tuh masih lemah. Gimana mau sembuh kalo masih memenangkan ucapan-ucapan hati? Ibu, Mas, Mbak bahkan teman pria terdekat yang saya punya pun semua sudah mberi saran, menyuguhkan kata-kata puitis mereka untuk saya cerna toh pada akhirnya ego “Tau apa mreka tentang hati saya” berujar lebih keras.

Saya baru aja jalan-jalan ke blog kakak perempuan, dan saya jadi sadar bahwa I’m not that close with my Mom, my sister and my brother. Gimana saya bisa deket kalo selalu push people away?

Terapi ke 5, masih belum bisa nerima orang, belum bisa nerima pendapat orang, masih ngerasa nelongso sama diri sendiri. Harus berapa terapi yang saya lalui supaya segera sembuh? Harus berapa banyak goresan di lengan, tangisan supaya saya berani menghadapi seluruh masalah saya?

Kata Nindy, sohib saya, ketika sedang menangis keras atau sedang dalam kesulitan jangan suka menyalahkan kelima mental illness saya, siapatau memang saya nya yang salah, bukan mental illness nya yang mengusik.

Semoga saya cepat sembuh, bisa jujur sama diri sendiri dan jujur sama orang lain.

With tears,

Intan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Intan Ratri Pramesthi’s story.