BHATARA dan YUSUF

Seseorang dengan wajah yang sangat ku kenal menghampiriku lalu bertanya,

“Apakah kau punya waktu?”

“Ya” Jawabku singkat.

“Kemari, akan kuceritakan sebuah kisah tentang Bhatara dan Yusuf”

Aku duduk di sampingnya dan Dia mulai bercerita.

***

Yusuf merupakan mantan seorang Mahasiswa yang dulu pernah berjaya dijamannya. Mengutip dari perkataannya di salah satu media social :

“Yang saya lihat logika mahasiswa sekarang : belajar fokus. Lulus 4 tahun. Lalu baru pakai otak untuk bangsa. Jadi 4 tahun hanya perdalam ilmu.”

Begitulah kata Yusuf. Menurutnya, Mahasiswa jaman sekarang sudah merasa keren dengan hanya mengkaji peraturan yang ada dalam organisasi dan melupakan tanggung jawab kepada rakyat. Hanya bisa menggunakan hashtag save untuk melindungi bangsa tanpa mencoba dekat dengan rakyat. Lantas selama ini kemana semua orang yang mengatas namakan dirinya sebagai mahasiswa yang notabenenya memiliki peran fungsi sebagai Social Control ketika rupiah melemah dan ketika subsidi dicabut? Jangan kira, ketika kita melihat penuhnya penonton java jazz, kita mengganggap negeri ini tidak menjerit.

Yusuf mengungkapkan bahwa dirinya bersyukur tidak menjadi Mahasiswa di era saat ini.

***

“Yusuf sangat mengagungkan sejarah di balik reformasi 98. Ia menyanyangkan, tidak adanya eksistensi dan bentuk ekspresi Mahasiswa jaman sekarang terhadap permasalahan Rakyat”

“Lantas, Bagaimana dengan Bhatara?”

Lalu, Dia mulai melanjutkan ceritanya yang belum usai.

***

Bhatara. Seorang Mahasiswa dari Institut ternama di Jawa Barat yang mengirimkan Surat Terbuka untuk Yusuf. Bhatara sangat terusik dengan ucapan Yusuf, yang mengatakan tentang matinya eksistensi Mahasiswa saat ini. Bhatara menilai bahwa setiap jaman memiliki Zeitgeist*. Menurut Bhatara, Mahasiswa seharunya diberikan kebebasan untuk memilih Zeitgeist-nya sendiri. Janganlah menyamakan Mahasiswa jaman sekarang dengan Mahasiswa di era reformasi. Bahkan Bhatara bergeming :

“Bahwa aku, juga teman-temanku, atau mungkin bukan aku, mungkin besok, lusa, satu tahun atau sepuluh tahun lagi, kami akan bisa menunjukkan kepadamu bahwa kami juga mahasiswa sekarang sanggup membuat perubahan yang lima, sepuluh, seratus kali lebih besar daripada Reformasi 98!”

Ia meminta Yusuf agar tidak ikut campur dengan urusan Mahasiswa saat ini. Dirinya menyatakan bahwa saat ini Mahasiswa sedang berjuang untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh pendahulu yang seharusnya bertanggung jawab, sekarang malah memaki maki-nya karena kondisi saat ini yg sulit melakukan perubahan seperti yg Yusuf mau.

Cura Te Ipsum*, Yusuf! Begitulah pesan terakhir Bhatara dalam Surat Terbuka untuk Yusuf.

***

Begitulah akhir dari kisah yg disampaikannya.

Sebagai Mahasiswa, Bagaimana padangan Anda mengenai perbedaan pendapat antara kedua Aktifis dengan Zeitgeist-nya tersebut?

Silahkan Renungkan.

Sudah cukupkah peran Anda pada masyarakat?

Jika belum, Lalu bentuk ekspresi apa yg akan Anda lakukan?

*Zeitgeist : Semangat dan jiwa zaman

*Cura Te Ipsum : Urusi urusanmu sendiri

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.