JINGGA DI UFUK BARAT

Kubiarkan diriku duduk disampingnya. Cengkrama hangat diantara kami bertiga membuatku enggan beranjak dari tempat dudukku. Sayup-sayup terdengar kicauan burung, terbang menghiasi Sang Jingga. Sejenak aku memandang ke arah langit dalam diam,menikmati puluhan burung yg kesana kemari mencari tempat singgah sebelum matahari lenyap diufuk barat. Sungguh pemandangan sempurna. Aku tak menyangka suasana senja seindah ini. Selama ini kubiarkan semuanya berlalu begitu saja tanpa memperhatikan setiap detailnya. Pagi,malam, kemudian pagi lalu malam lagi. Semuanya tampak sama. Hingga detik ini,baru ku sadari aku telah melewatkan sebuah lukisan alam di senja hari.

Dia mulai beranjak dari tempat duduknya dan pergi, Kini tinggalah kita berdua. Tak banyak cengkrama yg kami lakukan. Sesekali aku menoleh ke arahnya berharap mendapatkan jawaban. Namun, yg dilakukannya hanya memandang lurus kedepan seolah sedang menerawang sesuatu. Kembali kunikmati suasana senja. Begitu tenang dan nyaman. Seketika itu pikiranku mulai berimajinasi membayangkan bagaimana rasanya senja dibelahan bumi lainnya, Apakah senja disini sama dengan senja di Southpert dengan hamparan pasir putih dan deru ombaknya? Ataukah senja disini sama seperti ketika kau berlayar menggunakan kapal mengelilingi danau di Stanley Park? Tuhan, suatu hari nanti ijinkan aku menikmati senja di tiap belahan bumi-Mu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.