Tentang Sore itu


Hari ini, kota yang terkenal akan “kepanasannya” menunjukkan sisi lemahnya. Dan aku, seorang diri, duduk ditemani alunan nada yang membuat hatiku tenang walaupun sebenarnya mataku sudah ingin mengeluarkan keringatnya. Hatiku rasanya ingin teriak, melihat sosok yang seharusnya menjadi malaikat-ku sedang bertatap muka dan tertawa bahagia dengan orang lain. Dia tersenyum. Nampak sangat bahagia, selalu begitu. aku sangat menikmati senyuman yang terpancar dari wajahnya, walaupun aku tau senyuman itu bukan milikku. Aku tidak tau sampai kapan aku mampu menahan kebodohan ini, aku hanya bisa berusaha dan menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dalam hatiku ini. Lalu kualihkan pikiranku, mencoba untuk menghibur diri dengan menatap hijau pepohonan yang bergoyang sesuai irama angin yang menerpanya, sungguh tenang hatiku melihat bagaimana elemen-elemen alam saling menghibur satu sama lain. Melihat hal tersebut semakin membuat aku tenggelam dalam pikiranku, dan semakin aku tenggelam dalam pikiranku, semakin tenang hatiku. Sejenak aku tersadar akan sesuatu. Aku sadar akan “Filosofi Pohon”, Pohon selalu memberi kepada sekitarnya, memberi buahnya kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbuat buruk terhadap dirinya. Pohon selalu memberi kepada sekitarnya, memberi oksigen kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbuat buruk terhadap dirinya. Pohon selalu memberi kepada sekitarnya, memberi kesejukan kepada orang lain, bahkan kepada orang yang berbuat buruk terhadap dirinya. Betapa bahagianya jika diriku yang bodoh ini bisa menjadi pohon, selalu memberi tanpa sedikitpun memikirkan balasan. Aku ingin seperti pohon. Pasti bahagia.

Like what you read? Give Jyoti Krisnananda a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.