Blog / Architecture

FEED Retail Store by HGT Architects

Mengintip Pengalaman Retail yang Dinamis di Sudut Kota Bandung

Jaladri
Jaladri
Oct 12 · 5 min read
Bincang Desain oleh HGT Architects bersama FEED. Foto oleh Nindi Isma, 2019.

Pada hari Sabtu, 5 Oktober 2019, HGT Architects bersama dengan FEED: Cold Pressed Juice and Healthy Foods mengundang pengunjung untuk berbincang bersama dalam rangka Bandung Design Biennale 2019. Bincang desain ini diadakan di Retail Store FEED yang merupakan salah satu proyek terbaru hasil rancangan HGT Architects. HGT Architects merupakan satu studio arsitek multi disiplin yang memproduksi desain arsitektur, desain interior, adaptive re-use serta master planning.

Cold Pressed Juice dari FEED juga dapat ditemukan di Papaya Bandung. Foto oleh Sarifa Wirajaya, 2019.

Toko yang berada di jalan Setiabudi no. 56 ini merupakan gerai retail FEED yang pertama di kota Bandung. Hingga bulan November 2018, FEED menjual produknya secara daring atau melalui distributor dengan toko fisik yang sebagian besar berada di kota Bandung. Produk utama FEED adalah jus dingin (cold pressed juice) yang terdiri lebih dari 12 varian.

Pada bincang desain kali ini, kita bisa menangkap prinsip-prinsip apa yang dimiliki oleh FEED: Cold Pressed Juice and Healthy Foods yang kemudian ditangkap oleh HGT Architects dan diaplikasikan dalam toko retail yang pengalaman ruangnya dapat langsung dirasakan pada bincang desain ini. Salah satunya tentang nilai-nilai hidup sehat yang dikampanyekan oleh FEED. FEED percaya pada pentingnya mendapatkan nutrisi yang baik untuk tubuh. Cukup tidaknya nutrisi akan berpengaruh langsung pada kesehatan fisik dan psikis manusia.

Selama proses konsep, owner FEED menginginkan toko fisik yang dapat menghadirkan pengalaman membeli jus yang tidak biasa. Ini menjadi tantangan untuk HGT Architects. Bagaimana caranya ketika pengunjung membeli jus, itu menjadi suatu pengalaman retail yang baru.

Henry Gunawan Tjhi, Principal HGT Architects. Foto oleh Nindi Isma, 2019.

Henry Gunawan Tjhi, sebagai principal architect di HGT, menjelaskan bagaimana proses desain FEED Retail Store terjadi. Inspirasi awalnya datang ketika Henry mengunjungi kebun tempat dari mana bahan-bahan untuk produk FEED ditanam. Jus yang diproduksi FEED berasal dari tanaman organik segar yang tumbuh di kebun yang berbukit-bukit di Ciwidey dan Cikalong. Perjalanan yang begitu dinamis mengikuti kontur bukit yang naik turun membuat Henry ingin membawa pengalaman ruang itu ke FEED Retail Store. Jika di tempat lain produk minuman dingin ditampilkan dalam glass door freezer yang tertutup, deretan botol jus di dinding yang melengkung akan langsung mencuri perhatian kita ketika memasuki toko ini.

Sirkulasi yang meliuk-liuk akan menyambut kita seketika masuk ke ruang dalam. Foto oleh Jaladri, 2019.

Jika diperhatikan, satu gantungan maksimum dapat memikul tiga botol. Tetapi dengan material yang reflektif, seakan-akan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Efek visual ini tidak hanya dicapai karena sifat materialnya saja, tetapi juga melalui bahan gantungan dan bahan dinding yang sama-sama menggunakan stainless steel. Bahan yang sama menjadikan dinding ini terlihat mulus (seamless) dengan ruang maya dibaliknya. Ruang yang didominasi dengan kaca dan stainless steel yang reflektif, menciptakan kesan ruang yang seakan-akan memiliki luas tak terbatas. Dinding ini menjadi focal point dari keseluruhan ruangan.

Botol jus sebagai aktor utama pada dinding yang dinamis. Foto oleh Nindi Isma, 2019.

Cara memamerkan produk yang tidak biasa, mengharuskan perlakuan yang berbeda pula. Jika kita ke toko biasa, lemari penyimpanannya yang dingin. Tetapi karena di sini produk-produknya ditampilkan di luar lemari pendingin, keseluruhan ruangannya yang harus dingin. Agar menjaga ruangan tetap pada suhu yang ideal untuk makanan dan minuman segar, bagian ini menggunakan 3 titik pendingin ruangan.

Konsistensi material digunakan dari dalam hingga ke luar ruangan. HGT menggunakan material alumunium yang berjarak setengah senti agar tidak terlihat berat seperti jika menggunakan material plat besi. Keunggulan dinding non-solid ini adalah ia tidak perlu menahan beban angin terlalu besar. Selain itu dinding ini juga dapat menunjukan visual yang menarik. Branding FEED banyak menggunakan warna hitam dan putih. Kontras ini diaplikasikan pada keseluruhan toko, menjadikan background berwarna monokrom sangat harmonis dengan produk toko yang berwarna-warni.

Lempeng alumunium yang berjarak tidak hanya berfungsi secara struktur, tetapi juga menghasilkan permainan bayangan yang harmonis ketika berpadu dengan cahaya matahari. Foto oleh Jaladri, 2019.

Saat memasuki toko ini, kita akan disambut oleh area duduk di bagian depan. Area duduk ditaruh di depan karena produk makanan dan minuman tidak mungkin ditaruh dekat jendela agar kesegarannya terjaga dari pancaran sinar matahari. Pintu masuk menggunakan pintu kaca agar suasana di dalam toko dapat terlihat dari luar bahkan dari ujung trotoar jalan.

Seorang pengunjung mengintip citraan projection mapping di sudut belakang toko. Foto oleh Jaladri, 2019.

Untuk material lantai, HGT menggunakan ubin granit dengan tekstur serat kayu yang dinamis. Tekstur ini sangat cantik ketika berpadu dengan dinding stainless steel. Pantulannya menghasilkan citraan riak air di bagian lantai.

Di sudut belakang toko, ada smoothie & salad bar untuk para pengunjung menikmati sekaligus melihat bagaimana makanan dan minuman FEED dibuat. Di ruang salad bar ini juga ditempatkan proyektor yang digunakan untuk event-event yang dilaksanakan di FEED. Jika sedang tidak ada event yang berlangsung, proyektor dapat digunakan sebagai projection mapping untuk menciptakan citra visual di ruangan ini.

FEED Retail Store tidak dibangun dari tanah kosong melainkan menggunakan konsep adaptive re-use. Kendala yang paling besar tentu saja memikirkan teknik membangun dengan kompleksitas ruang yang ada tanpa mengorbankan konsep yang telah dibuat. HGT memilih material-material dengan teknik membangun yang memadai untuk mengatasi permasalahan ini. Dari ruangan eksisting, HGT memerlukan waktu hanya 3 bulan untuk mengolah konsep hingga toko terbangun seperti sekarang.

Salad Bar. Foto oleh Jaladri, 2019.

HGT Architects mendorong terciptanya interaksi melalui pengalaman ringan yang ditemui melalui penempatan panel kaca, dinding putih, rak, dan permukaan di seluruh interior yang dinamis. Ketika porsi yang tepat ditempatkan berdampingan dalam suatu ruang, ia menghidupkan ruang dalam dengan denyut kehidupan baru.

HGT berkolaborasi dengan Klaasen Lighting Design ID untuk desain pencahayaan dan KUDOS Design Collaboratory™ Bandung untuk metode konstruksi dan detail instalasi. HGT juga saat ini sedang membuka pre-order publikasi monografi pertamanya yang berjudul Stanley Marthin Restoration Garage. Jika ada pembaca yang tertarik untuk pre-order buku ini atau tertarik menggunakan jasa HGT Architects, sila hubungi laman instagram @hgt_architects atau situs hgtarchitects.com.

Display publikasi Stanley Marthin Restoration Garage di FEED Retail Store. Foto oleh Jaladri, 2019.

Jaladri,
Sabtu, 12 Oktober 2019


Terima kasih kepada HGT Architects, FEEDmehealthy.co, Bandung Design Bienalle untuk kesempatan liputannya, serta Nindi Isma dan Sarifa Wirajaya untuk dokumentasinya.

Jaladri

Written by

Jaladri

minimalism | capitalism | city studies

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade