Poor People Make Poor Choices

“The poor borrow more, save less, smoke more, exercise less, drink more, and eat less healthfully. Offer money management training and the poor are the last to sign up. When responding to job ads, the poor often write the worst applications and show up at interviews in the least professional attire.” — Rutger Bregman at The Correspondent

“Minjem uang tuh buat produksi. Lah ini minjem duit, buat beli tv.”

“Jangan ngikutin napsu beli barang bela-belain kridit. Daripada duitnya buat nyicil, mending lu nabung.”

“Ya elu kagak ikut BPJS. Udah sakit gini kan baru noh kerasa berabe.”

“Bapak sehari buat rokok habis berapa? Mending uangnya ditabung untuk sekolah anak-anak.”

“Buset dah. Udah tau idup susah, pake beranak mulu. Dikata punya anak kagak usah dikasih makan apa?”

Kita pasti sering mendengar celotehan di atas. Anda juga pasti sering bertanya-tanya kenapa sih orang-orang kelas menengah ke bawah sering sekali melakukan kebodohan finansial atau salah ambil keputusan pada banyak sisi dalam kehidupannya.

Setidaknya ada 7 poin kenapa hal ini bisa terjadi.

  1. You can’t take a break from poverty
    Menjadi miskin artinya menjadi selalu terburu-buru. Tagihan seperti mengantri tanpa henti. 
    Kelas menengah ke bawah cenderung berhutang. Maka jangan heran jika tagihan kelas menengah ke bawah justru lebih banyak dibanding kelas menengah ke atas. Dan tentu saja dengan biaya hidup yang sama, seseorang dengan penghasilan lebih bisa menabung lebih banyak.
    Pakar finansial selalu berkata, “bayar dirimu lebih dahulu! Utamakan tabungan baru bayar tagihan!” Tapi jangankan untuk menabung, penagih utang hampir setiap hari mengunjungi rumah. Tagihan inilah itulah, cicilan inilah itulah. Meski ingin menabung, tetapi tenggat waktu pembayaran tagihan yang terlalu dekat menyulitkan orang untuk itu.
  2. Miskin uang, artinya miskin waktu.
    Penghasilan yang kecil memaksa orang untuk bekerja lebih banyak. Pekerjaan yang lebih banyak artinya waktu yang sedikit. Minimnya quality time bersama keluarga, stress berkepanjangan, membuat orang-orang tidak prima saat melakukan pengambilan keputusan. Poor leisure lead to poor decision making. Kurangnya waktu juga tidak jarang memaksa orang untuk makan di luar dan tidak sempat menyiapkan makanan di rumah, yang artinya menambah pengeluaran. Miskinnya waktu memiskinkan kualitas hidup seseorang.
    “Scarcity consumes you, you’re less able to focus on other things that are also important to you.”
  3. Less cash means more spending.
    Kurangnya uang artinya tidak bisa beli barang dalam jumlah banyak. Beli rokok ketengan, beli shampo sachetan. Tidak punya kulkas dan alat penyimpan beras artinya harus membeli eceran agar bahan makanan tidak keburu busuk, yang sesungguhnya lebih boros karena beli eceran harga per itemnya pasti lebih mahal dari belanja borongan. 
    Terpaksa juga membeli barang murah berkualitas biasa-biasa saja — yang dalam jangka panjang — menghabiskan biaya lebih banyak karena lebih cepat rusak, sehingga lebih cepat diganti baru.
  4. Memaksa diri menambah liabilitas.
    Ada yang kredit motor karena punya pekerjaan di banyak tempat sehingga harus diakses menggunakan kendaraan pribadi karena minim dan mahalnya transportasi umum. Padahal kendaraan pribadi membutuhkan perawatan yang sekali lagi menambah biaya.
  5. Pengalaman ruang dan pengalaman visual yang berbeda.
    Kenapa sebagian orang punya selera yang “norak”, atau kenapa orang bisa nyaman tinggal di lingkungan slums, karena dari pengalaman yang mereka punya hal-hal tersebut adalah wajar dan nyaman untuk mereka.
  6. Desperate times make desperate action

Brexit, kemenangan Trump, kemenangan Anies-Sandi, contohnya, tidak luput dari faktor pemilih dari kalangan menengah ke bawah. Banyak orang-orang yang kembali ke konservatisme karena merasa hal-hal yang baru tidak memberi dampak baik apa pun kepada mereka. Tata kota paling mutakhir rancangan lulusan master urban design tetap saja memarjinalkan orang-orang pinggiran. Memilih yang berbeda dari yang sudah mereka alami semata-mata harapan akan ada perubahan yang berbeda dari yang sebelumnya. Yang penting berubah. Meski perubahan itu tidak bisa dipastikan akan memberi dampak yang lebih baik atau tidak. 
“It’s a vote of disappointment.”

7. Privilese.
Ada banyak hal yang tidak bisa diakses oleh orang miskin. Seperti asuransi yang bagus atau fasilitas kesehatan yang baik. Tetapi kesulitan bukan hanya dari cara mendapatkannya tapi juga dari pengalaman yang membatasi mereka untuk berpikir ke arah — yang orang-orang dengan privilese lebih — dianggap sebagai pilihan tepat.

Kita bisa dengan mudah berkata, “Kalau saya ada di posisi mereka, dengan keterbatasan itu saya akan melakukan ini.” Padahal kita berpikir seperti itu karena pengalaman kita yang bisa memberi struktur berpikir yang berbeda. Kalau sejak awal kita berada di posisi mereka, tentu tidak bisa berpikir seperti itu. Karena bukan hanya ketiadaan sarana yang membatasi pilihan tetapi juga ketiadaan pengalaman yang membatasi imajinasi.

Bacaan lebih lanjut:
-
https://thecorrespondent.com/4664/why-do-the-poor-make-such-poor-decisions/179307480-39a74caf
-
http://www.economist.com/news/united-states/21663262-why-low-income-americans-often-have-pay-more-its-expensive-be-poor
- https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2016/03/08/why-the-poor-pay-more-for-toilet-paper-and-just-about-everything-else/?utm_term=.a9ffc5a77262

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.