
Telepon
Siang itu terik namun tanganku dingin menuliskan namamu di selembar foto perempuan---entah siapa---tapi rindu itu, yang tak terduga datangnya, tiba-tiba saja meluapkan semuanya dalam satu kalimat pendek.
Aku tak bisa menggambar dengan baik, kataku. Lalu kutuliskan saja denyut jantungku yang tak beraturan dengan kata-kata dari dunia lainku. Kupikir, dengan menulis namamu seperti ini, engkau dan siluet sore yang menyerupai dirimu akan duduk di sebelahku, memandangiku dengan mata terbuat dari cahaya.
Air mata menjadi keheningan yang menenangkan. Datang bersama-sama serupa cuaca. Dalam diam aku seperti seonggok gitar terbuang. Dalam petikan gitar, aku seperti tanpa suara. Lalu, beberapa saat nanti, ada telepon berdering yang kelak menjadi menit-menit terindah.
Hanya ada suara dari langit di sana, saat kuangkat teleponnya. Berpapasan dengannya lewat suara.
Jakarta, 4 September 2018
