Bagaikan Api dalam Kebencian

Credit by : Canva.com

Tidak tahu mengapa saya ingin sekali menyampaikan hal ini. kalau ada yang bilang “diam” bukan cara yang tepat dalam mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan “Blasphemy”. justru dari beberapa hari kejadian kasus yang menghebohkan Jagat raya dan seisinya saya lebih mengambil sikap diam karena sejujurnya bingung mau ambil sikap sih. saya orang nya gitu guys ! sukak labil. susah bertindak kalau lagi sedih dan kecewa. intinya perasaan 3 hari terakhir kayak gado-gado ala-ala mak iyem gitulah !

Sehingga lebih menahan tangan untuk menulis sesuatu atau bahkan bertindak yang lebih ekstrim untuk mengambarkan kondisi saat ini, Eng Ieng…. karena malam ini habis bertapah dari antah berantah. pagi ini saya mencoba untuk tidak DIAM untuk permasalahan ini, bahaya bung kalau di diamkan !

Ada sedikit renungan yang mungkin bisa kita lakukan bersama untuk Indonesia lebih baik bahkan hal ini akan membuat pak Ahok jauh lebih bahagia dari sekarang kalau kita bisa mencoba hal ini bersama-sama, tapi ini hanya saran anak cupu yang sebenarnya tidak expert untuk masalah beginian dan saya juga hanya mencoba berfikir dan bertindak yang terbaik untuk saya lakukan, untuk Indonesia tercinta dan ini boleh di ikutin saran saya dan juga boleh tidak. it’s FREE !

Pusing nggak sih 3 hari terakhir semua timeline di socmed isinya hujatan, saling menyerang, saling menyalahkan, perasaan sedih dimana-mana, hancur berkeping, rapuh tak bertulang, makian bahkan sampai dengan acaman bertebaran di socmed. jujur saya SEDIH !! Pakek banget

Kenapa gaes ?

Bisa dibayangkan gaes, kalau ini berlarut-larut sampai bermingu-minggu, berbulan-bulan atau jangan-jangan bisa bertahun-tahun,bisa kayak drama serial Korea atau sinetron tersanjung ha haa . Kan serem gaess !!

Secara tidak sadar, informasi yang kita terima dari socmed atau diskusi pendek dengan temen kantor yang setiap hari isinya adalah kebencian, kebencian, dan kebencian atau pembalasan, pembalasan, pembalasan. saya mengatakan hal ini bukan berarti saya meremehkan orang-orang yang telah berjuang mati-matian membela pah Ahok atau mengacuhkan orang-orang yang sudah rela datang ke Tugu Proklamasi sambil mendo’a kan pak Ahok dan menyanyikan Lagu Indonesia Pusaka sebagai bentuk rasa ketidakadilan hukum di Negeri ini. sama sekali TIDAK guys ! suerrr deh

Sah-sah aja sih kalau kita meluapkan letupan emosi karena rasa kecewa yang mendalam, ada rasa pesimis bahkan harapan itu sirna. Tetapi pertanyaannya adalah sampai kapan kita begini ? kapan kita move on ?

udahlah mantan ya mantan, cukup dikenang untuk menghiasai hidup kita agar lebih berwarna lagi. Azeek haaa haaa

Ayolah, coba duduk sejenak dan tenangkan pikiran kita masing-masing yukk, untuk memikirkan hal lain yang lebih bisa kita perbuat dan lakukan secara nyata dan berdampak secara siginifikan.

Kok saya lebih setuju begini ya, harusnya kita sekarang itu lebih concernya memikirkan bagaimana hal yang dialami pak ahok sekarang, tidak akan terjadi lagi pada keluarga kita, anak kita, cucu kita untuk kedepanya. dengan cara apa ? dengan cara belajar dari kejadian saat ini.

Lah, terus caranya gimana ? jangan sok nggurui lu, sotoy ayam luu !! yey, soto kambing keleuss haa haaaa

Mohon bersabar, ditahan emosinya mas. ini ujian lohh !

Gampang cuy. simpan cacian, makian, bahkan umpatan kita untuk hal yang lebih urgent. Menurut lo persoalan Ahok ini gak urgent apa ?

Kasus Ahok emang penting dan saya sebagai warga biasa tidak bisa berbuat banyak agar pak Ahok bebas dari penjara. toh juga palu sudah diketuk dan pak ahok juga sudah mendekam di jeruji.

Saya sendiri tidak tau menau tentang politik seperti apa. apalagi ketentuan Hukum yang seharusnya adil itu gimana seharunya. Ya mungkin, cara terbaik yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendo’akan beliau agar sehat terus, proses hukumnya dapat berjalan dengan baik dan pastinya saat keluar dari penjara Pak ahok akan jadi manusia diatas rata-rata dan saya masih menaruh Keoptimisan kok untuk pak Ahok untuk berkontribusi lagi untuk Indonesia ini. karena saya yakin akan lebih sedih lagi, perih lagi, sakit lagi. hatinya pak Ahok kalau melihat kita gontok-gontokan di socmed. sedih lohh. ini masih di socmed belum di dunia nyata.

Anda maukan pak Ahok bahagia dan semua masyarakat Indonesia juga bahagia ?

Lebih baik kita simpan marah kita dan energi kita untuk mengawal program-program Gubernur yang baru sekarang. kalau nggak becus kerjanya nanti, Nah baru kita protes dengan lisan yang bijak dan memberikan solusi yang tepat. jadi kalau mau memberikan kritik pedas, harus siapkan teh botolnya juga ha haaa, Pahamkan maksud gue ? sepertinya itu lebih arif dibandingkan harus membuang energi kita sia-sia untuk menghadapi orang-orang yang semakin tidak waras dalam berfikir. ya nggak ?

terus kalau saya sudah mendiamkan, solusinya bagusnya apa ? Apa yang harus saya lakukan ?

Saya jadi ingat pesan guru ngaji saya bahwa kalau mau memadamkan Api itu maka siramlah air sebanyak-banyak nya, maka akan padam apinya tetapi jangan lupa akan ada arang yang berbekas dan asap yang terus tertiup angin. ya itulah hidup !

biarpun faktanya, semakin banyak air yang kita siram belum tentu Api langsung padam bahkan terkadang semakin berkobar tetapi setidaknya niatan baik dari kita untuk memadamkan api daripada tidak sama sekali.

Jadi sekarang itu momment nya KITA menerbarkan hal-hal yang positif di dunia maya dengan mengajak pengguna socmed untuk menebarkan perdamaian antar sesama, yuk ahhh mulai dari dari sekarang dan anda.

dengan cara seperti apa ?

dengan cara menebarkan kebaikan, menebarkan harapan, membangun optimis kembali, memaafkan orang yang dzolim sama kita, mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dalam hidup, memaafkan mantan ehh yang ini acuhkan haaa haaa

Kuy ah, mulai sekarang mari kita isi caption ataupun content di socmed kita yang menebarkan kebaikan dan mengajak kerukunan dan perdamaian antar umat agama dan suku.

masih nanya lagi caranya bagaimana ?

ya mulai dari diri sendiri aja tong, tidak perlu muluk-muluk lah. setidaknya janji sama diri sendiri untuk tidak menebarkan api lagi atau malah uda ditebar tu api malah disiram bensin. Alamakk panasnya tuh sampai keujung rambut !

Paham kan maksudnya, jadi berita cabe-cabean yang masa lalu atau berita HOAX yang bisa merusak kerukunan antar umat agama jangan disebar lagi. sebelum disebar di baca, ditelaah, terus ditelan ha haa

Nggak gitu sih, intinya berfikir kritis setiap informasi yang kita terima. sayang toh, udah Cantik, udah Ganteng , Rajin, Baik hati lagi. Ehhhh.. content socmed nya isinya “BLeek” semua. kan Kezell yang baca. terjadilah yang namanya “unFriend masal” ha haaa

yuk senyum lagi, rangkul kembali orang-orang yang telah berbuat sesuatu dengan kontribusi nyata, bisikin ke mereka bahwa jakarta masih ada bung dan Ayok kita bangun lagi dari semua kekecewaan ini dan mencoba membuat sesuatu yang berdampak untuk lingkungan.

Do it something kek, biarpun gue sendiri gak punya project ataupn karya yang bisa di mewahkan tapi setidaknya gak nyampah-nyampah banget lah di masyarakat atau di social media ha haa

Intinya kalau untuk saya pribadi, saya akan ajarkan kepada keluarga saya, adik saya, kakak saya untuk menghargai sebuah keberagaman dan mencoba menerima perbedaan yang ada. karena setiap anak lahir dari rahim ibu yang sama belum tentu sama isi kepala anaknya. yang sulung isinya bakwan, yang anak tengah empek-empek belum lagi anak bontot kecebong. tuh kan !!

Jelas beda, La wong saya sama kakak saya aja berantem karena masalah makanan dan uang. terus kita mau nuntut gitu ke sang pencipta untuk menciptakan semua di dunia sama. heloooo, siapa elooo ?

intinya gini ya, Biarlah ini terjadi dimasa SAYA kejadian blasphemy, tetapi tidak boleh terjadi dimasa anak cucu kita. Katakan NOO untuk kedapanya dan mari terbarkan perdamaian dari keluarga terdekat.

Ajarkan mereka budi pekerti yang baik, tanamkan nilai Agama dengan kelembutan bukan kekerasan, dan jangan biarkan anak cucu kita terprovokasi dengan kondisi saat ini.

Jangan sampai terbangun rasa kebencian di hati anak kita, cucu kita, adik kita yang sebenarnya mereka tidak paham. bahkan tidak mengerti titik permasalahan ini semua tetapi jangan sampai keadaan yang runyam semakin babak belur dengan membuat mereka membenci temanya gara-gara melihat status kita,omongan kita dirumah, bahkan kita nggak sadar kalau anak kita juga ikut serta nonton Televisi loh. lu banyangin aja kalau berita yang ada di TV isinya cuma hanya memberitakan gontokan antara umat A dan umat B. bisa brabee ni semuaa !

Sedih hayati bang !!

dampaknya apa ? anak kita nggak “tanpa sengaja” terikut dengan suasana saat ini. misalnya mbak dirumahnya karena muslim anaknya jadi benci, supir pribadi yang lucu dan gagah hanya karena kristen dirumahnya dibenci, tukang kebun yang karena tidak punya agama dirumahnya dibenci juga bahkan tukang jamu yang gak tau permasalahanya sekalipun karena berbeda jamunya dibilang gak enak dan bau ketek. kan kezelll dengernya !!

Kalau seperti ini, kok saya jadi keinget ceramahnya Cak Nun ya. Jadi cak nun pernah ngomong seperti ini di video youtube, mohon dikoreksi ya guys kalau salah heee heee

“Kamu itu tidak perlu muluk-muluk untuk menjadi orang islam yang paling baik, paling sholeh, paling taat bahkan paling alim sekalipun. Cukup jadi orang yang tidak melukai hati orang lain saja sudah lumayan, sudah cukup !! . terus kalau kamu sekarang mempertahankan islam dengan melukai antar sesama manusia kalau kata cak nun itu BUKAN ISLAM, karena Islam itu rahmatan lil alamin untuk semua golongan”

harusnya Islam hadir itu membawa kedamaian, ketentraman dan membuat yang bukan islam jadinya penasarn ingin belajar islam. karena apa ?

karena pas lihat supirnya akhlaknya luar biasa..
Karena lihat mbok dirumahnya arifnya luar biasa..

artinya apa ? jangan sampai orang yang ingin mengerti Islam jadi ogah-ogahan untuk mengenal Islam. Jangankan mengenal, mendengarkan namanya saja sudah males. kan serem kalau begitu

ini menurut pemaparan sederhanaku loh ya !!

gitu loh rek harusnya !! niru gaya khasnya cak nun kalau ngomong hee heee

kurang lebih seperti itulah yang disampaikan cak nun di Video dan saya setuju dengan hal itu, biarpun nanti habis tulisan ini saya di cap Kafir. Ya monggo !

dicap Ateis, ya silahkan !

Saya sih mikirnya simple aja mas,mbak. saya itu ingin hidup tentram dan damai. Saya hanya tidak ingin mengulang dan terulang kembali kejadian-kejadian berdarah seperti di Sampit, kerusuhan di glodok 1998, rumah ibadah yang dibakar dan dihanguskan belum lagi anak-anak kecil yang tidak berdosa dan mayatnya berglempangan di jalan.

Lah terus, siapa yang akan berani bertanggung jawab di akhirat kalau ini terjadi lagi ? Ayo siapaaa ? kamu yang sudah menebar kebencian !!

Saya gak sanggup mas, saya nyerah !! *ala-ala sinetron

Mungkin ini hanya omong kosong yang keluar dari mulut orang yang terkesan mau ambil amanya dari kasus ini, ya terserah sih. tapi hayati tidak pernah lelah kok untuk mengajak orang baik, karena diluar sana masih banyak orang yang mau berfikir waras.

Damai yuk !
yang cerai, rujuk yuk !
yang pisah ranjang, pelukan yuk !

*ampun dah kata-kataku, ambil baiknya aja gaes buang jeleknya haaaa haaa

Satukan lagi kekuatan kita untuk Indonesia lebih baik, ada masalah lain yang menunggu untuk kita selesaikan bersama-sama. tidak cukup hanya satu tangan untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada di Negeri ini butuh jutaan bahkan triliunan uluran tangan untuk Indonesia lebih baik lagi.

Siram air sebanyak-banyaknya ya guys, tapi jangan pernah lupakan asap dan arangnya biar bisa jadi pelajaran kita bersama kedepanya.

— — semua tulisan diatas murni dari hati saya paling dalam, tidak ada unsur memojokan, mendukung sala satu pihak,ataupun meremehkan — — -

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.