Percapakan

“ 10.000 jam berlatih, eh? ”
“ iya lah, mas.. Masa mau enaknya saja.. Berproses dong.. ”
Dia kembali berujar tanpa menunggu jawaban dariku. 
“ Nulis, nulis, nulis luangkan waktu setiap hari mas ”
Aku masih terdiam. 
“ mereka yang sudah besar hari ini, adalah mereka yang beberapa tahun kebelakang tekun belajar dan berlatih mas. Membaca dan menulis ”
Aku resapi dalam-dalam ucapannya. 
Dia melanjutkan
“ sudahkah mas bertanya pada diri sendiri, sudah berapa waktu yang diluangkan setiap harinya untuk berlatih. Ingat mas 10.000 jam. ”
Aku semakin tertunduk dalam. Suaranya lembut. Tanpa penekanan. Tapi menusuk dalam.
Berani-beraninya amatir seperti aku bermimpi setinggi itu tanpa mau berlatih. Ingin cepatnya saja. 
“ siapapun bisa menjadi apa saja yang dia cita-citakan. Klise. Tapi kedisiplinan memang benar menjadi kunci. ”
Aku menoleh menatap wajahnya.
“ aku akan selalu ada disampingmu mas”
Dia balas menoleh padaku. Tersenyum. Pipinya terangkat. Giginya putih berkilau.
Tidak ada lagi yang bisa aku perbuat jika sudah begini. 
“ Baiklah.. ” Akhirnya aku membuka suara. 
“ mari kita berjuang bersama ”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.