BONUS DEMOGRAFI KM ITB

“ Kuantitas memang tidak menggambarkan kualitas suatu komunitas. Akan tetapi semakin besar kuantitas akan memperbesar probabilitas suatu komunitas untuk menjadi berkualitas “

Isu multikampus sudah menjadi buah bibir di KM ITB beberapa tahun kebelakang. Isu ini muncul ke permukaan saat ITB Jatinangor resmi dibuka. Banyak dari mahasiswa ITB yang mempertanyakan bagaimana cara mahasiswa ITB Jatinangor untuk berkontribusi aktif terhadap dunia organisasi mahasiswa. Semua itu di tampik oleh banyak masa nangor yang rela menempuh jarak sekitar 26 Km untuk mengikuti serangkaian kegiatan di ITB Ganesha. Untung Jatinangor tidak sejauh Bekasi atau Cirebon


ITB akan membuka beberapa cabang diantaranya Bekasi dan Cirebon. Sekarang dalih “ masih bisa bolak balik kok kalau ada kegiatan “ membentur tembok besar. Secara logika mungkin ITB yang berada di Cirebon dan Bekasi akan merubah nama mereka ( menjadi Institut Teknologi Bekasi dan Institut teknologi Cirebon. Jangan disingkat, jadi gak enak ) dan meninggalkan kata “ cabang “. Secara Kualitas pendidikan harusnya disetarakan dengan ITB. Lagi lagi mengorbankan banyak Dosen senior yang sudah berumur untuk bolak balik mengajar di lebih dari 1 kampus yang berlabel “ Cap Gajah”. Satu hal yang pastinya tidak boleh kita lupakan adalah : Sebagai kampus yang berada setara dengan ITB bukan hanya harus setara soal akademik tapi juga setara dalam hal kemampuan berorganisasi.

. START UP

Saya jadi kembali mengingat cerita dari Kahim Pertama HMPL ITERA yang lebih dari setahun mengenyam pendidikan dan berkemahasiswaan di ITB . Banyak tantangan dan rintangan yang teman teman itera hadapi dalam pembentukan KM ITERA, tetapi mereka tetap teguh dan dapat memulai KM ITERA hingga berjalan seperti sekarang

Hal ini yang pertama terlintas di otak saya. Terdapat beberapa jurusan yang tersebar di 2 kampus tersebut dan bagaimana mereka memulai kemahasiswaan disana? Siapa yang membimbing masalah organisasi? Haruskah mulai dari Nol?

Kemudahan komunikasi online memang menjadi senjata ampuh untuk bertukar informasi. Hal ini masih kurang karena salah satu hal penting dari start up adalah membangun atmosfer kemahasiswaan dalam suatu organisasi. Ditakutkan karena perbedaan yang cukup jauh dalam pembentukan atmosfer kemahasiswaan di ITB dengan beberapa cabang lain maka arah serta bentukan dari kader kadernya pun berbeda jauh.

“ satu langkah awal akan menentukan segalanya” -pepatah tua dari cina-

  • SUSTAINBILITY

Saya pernah membantu salah satu organisasi kemahasiswaan di Universitas lain dalam memecahkan beberapa masalah. Salah satu masalah paling besar adalah hilangnya senior senior yang telah lulus dan gagalnya pewarisan nilai dari senior yang membentuk organisasi kemahasiswaan didalamnya. Tidak terjadinya pewarisan nilai,ilmu dan informasi bersifat fatal bagi suatu organisasi kemahasiswaan. Hal hal fundamental seperti dasar landasan organisasi, keanggotaan , karakter organisasi akan hilang karena terputusnya rantai pewarisan tersebut.


Dalam konteks organisasi yang masih muda, Hal tersebut sering terjadi. Saya membayangkan pertumbuhan kemahasiswaan di ITBekasi dan ITCirebon akan minim pengawasan dari para penjaga nilai ( dalam konteks ini adalah senior mereka di ITB ) . Pengawasan yang dilakukan harusnya berlangsung secara bertahap dibarengi dengan evaluasi. Apabila kemahasiswaan dan organisasi didalamnya telah melewati tahap startup,tetapi gagal melewati tahap keberlanjutan maka sama saja sia sia.

Mungkin hal hal diatas masih dikesampingkan oleh para “ aktivis “ di kampus ganesha dan nangor. Penyamarataan yang dilakukan, HARUSnya, bukan hanya dalam soal akademik, tetapi juga kemahasiswaan. Perlu diingat bahwa mereka ( calon mahasiswa ITbek dan ITC ) juga akan menyandang gelar mahasiswa gajah. Dengan segala tuntutan dan bayang bayang ITB pastinya akan sulit. Baik dari kader ( ITC dan ITBek ) maupun dari pengkader ( ITB ) akan mengalami keputusasaan membangun kemahasiswaan disana. Fenommena yang akan kita hadapi adalah bonus demografi. Dalam dunia perencanaan bonus demografi merupakan pedang bermata 2 . Saat diurus secara serius dan bertahap, maka bonus demografi akan menjadi tambahan amunisi yang apik bagi KM ITB. Sebaliknya bila hanya dipersiapkan “Setengah Matang” bonus demografi ini akan menjadi momok besar, bagi nama kemahasiswaan kampus gajah, saat output gagal kemahasiswaan KM ITBek dan KM ITC terjun ke masyarakat

Sebaiknya mulai dari sekarang kita sebagai pengenyam kemahasiswaan ITB mulai sadar dan merencanakan langkah sepertibapa yang akan kita ambil nantinya. Atau budaya DEADLINE mau terus kita terapkan? Bahkan saat menyangkut pembentukan karakter orang banyak?

“ karena pada dasarnya karakter dan budaya KM ITB mengarah pada pembentukan manusia terbaik bangsa ini “ -unknown-