
"Bagaimana bisa menuntut setia, jika dirimu mendapatkanya sebagai hadiah lomba ketidaksetiaan?"
Tak ada yang perlu merasa kalah atau menang,
Sebab kita memang tak sedang berlomba atau memperebutkan sesuatu (seseorang).
Jikapun benar begitu, maka saya adalah orang yang pertama kali kalah.
Bagaimana tidak, ditikam dua orang secara bersamaan tanpa adanya persiapan apalagi perlawanan adalah hal paling menyakitkan yang harus saya terima.
Tuduhan sebagai pelaku perusak atau dicap sebagai orang yang tak bisa 'move on', bahkan dibuatkan catatan-catatan dengan kalimat menyakitkan dengan nama yang disebut-sebut di status media sosial wanita itu.
Sedang kenyataan mendapati saya tak tahu menahu apa persisnya yang terjadi dibelakang saya selama ini, bahkan menjadi korban kebohongan berbulan-bulan bahkan mungkin tahun dari orang yang namanya teramat rajin disebut dalam doa-doa.
Entah siapa yang berbohong atau berperan sebagai korban dan penjahat disini.
Yang saya tahu, ada waktu-waktu yang terbuang sia-sia bahkan tak pernah dia anggap berharga sama sekali.
Dan yang terparah dari semua itu yang harus dijalani setelahnya adalah, dibunuhnya satu karakter bernama 'kepercayaan'.
Ia akan sulit dihidupkan kembali.
Bukankah itu tak adil?
bagi saya ataupun bagi sesiapapun orang yang akan saya temui di masa depan nanti.
Bandung, 05 September 2018.
Sumber gambar :www.instagram.com/@fitringanthiwani
