Self healing (part 1)
Setelah proses kekanak-kanakan dan hard feeling ini usai, maka tahap selanjutnya adalah introspeksi diri.
Selama ini saya telah dzolim pada diri sendiri, kehilangan berat badan secara drastis hanya dalam hitungan hari, pola makan dan tidur yang kacau balau, mood swing yang datangnya sering kali tak terduga, sampai akhirnya tubuh saya protes.
Mudah jatuh sakit, periode menstruasi mulai tidak normal (sekarang allhamdulillah sudah membaik), lalu mulai tidak fokus pada apa yang seharusnya dilakukan dan melupakan apa yang seharusnya tidak dilakukan.
Seperti sifat alamiah seorang perempuan, yang selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada dirinya. Hal ini juga terjadi pada diri saya. Menyalahkan diri sendiri sama saja seperti tak henti menabur cuka pada luka yang sudah ada, memperburuk bukan menyembuhkan.
Adakalanya perempuan harus membuka mata, mencoba memandang masalah dari sudut pandang lain. Kamu berharga, kamu diciptakan-Nya pasti ada alasan-alasan yang baik.
Maka kali ini, mulai detik ini juga, lewat tulisan ini saya bertekad untuk berhenti mendzolimi diri, berhenti berlarut-larut menghabiskan waktu meratapi apa yang terjadi, berhenti sibuk mengeluh, dan berhenti untuk terus menerus memposisikan diri menjadi korban atas apa yang telah terjadi.
Saya harus keluar dan lulus sebagai manusia yang lebih baik melewati segala ujian yang Allah berikan ini. Saya harus lulus sebagai seorang hamba, saya harus lulus sebagai seorang anak, dan saya harus lulus sebagai manusia yang harus mulai bervisi dan misi, bukan lagi jadi manusia yang jatuh lalu berhenti melangkah dan memperparah keadaan dengan tanpa adanya perubahan yang baik yang diambil dan dibuat setelahnya.
Sebab jika saya belum selesai dengan diri saya, lalu bagaimana bisa Allah mempercayakan orang lain untuk membersamai saya?
Bandung, 1 September 2018.
