Maaf dan muatannya yang kosong


Dalam setiap perayaan hari raya pasti diiringi pembombardiran kata maaf yang dibalut se puitis mungkin. Hal tersebut menjadi hal yang lumrah dan tidak menjadi masalah. Tak menjadi masalah karena tak ada dampak yang merugikan secara fisik, mungkin mangkel iya ha-ha-ha. .

Namun sayangnya kebanyakan momen ini hanya dilewatkan dengan perkataan maaf yang cenderung ikut-ikutan agar tak tenggelam dan tetap eksis. Ambil contohnya saja Presiden, ya Presiden, jangan sekitar, karena lingkungan sekitar sudah dipusingkan dengan harga sembako yang melambung tinggi.

Tiap tahun pastinya presiden kita menyampaikan pidato dan ucapan maaf tersebut, bagiku itu maaf yang tak punya makna dan hanya sekedar ikut-ikutan. Enggak percaya? Kita balik lagi beberapa bulan lalu, Presiden secara tegas menolak meminta maaf kepada korban tragedi 1965. Lah bayangkan, meminta maaf saja apa susahnya? Apa karena ada unsur politik, sehingga susah untuk meminta maaf. Ini meminta maaf karena negara waktu itu secara jelas menyiksa dan membunuh segala yang dipunya manusia ; harta benda, keluarga, masa depan dan fisiknya.

Bagi saya siapapun Presidennya, selama dia belum menyatakan permintaan maaf secara pribadi dan institusional seperti yang dilakukan Rusdy Mastura, Walikota Palu periode 2010–2015 maka saya anggap ucapan permintaan maaf di hari raya seorang Presiden hanyalah agar eksis semata.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.