“Kami Putra Putri Indonesia, mengaku KEPO pula Baper”

KEPO dan Baper, dua istilah yang amat sering kita "dengar, lihat, dan rasakan" dewasa ini. Dengan disertai semangat kepo dan baper mari kita bahas keduanya dengan sesuka saya. Sebelumnya saya sudah melemparkan pertanyaan saya kepada Om Google (OmG), bukan kepada 'orang pintar’ — bukan tempat tepat untuk bertanya menurut bapak dan ibu saya serta yang juga saya percaya — tentang pengertian dari kedua kata tersebut. Dari hasil jawab OmG; ‘KEPO’ merupakan singkatan dari Knowing Every Particular Object yang kemudian diartikan untuk sebutan kepada orang yang serba ingin tahu dari detail sesuatu ataupun untuk orang yang ingin tahu tentang urusan orang lain, sedangkan ‘Baper’ — yang juga menurut OmG— adalah singkatan dari Bawa Perasaan yang kalau menurut tribunnews.com bawa perasaan yang dimaksud adalah seseorang menyaksikan atau mendengar suatu hal, kemudian perasaannya terbawa akan hal yang disaksikan atau didengar tersebut.

Nah, dari jawaban singkat di atas mari kita baperkan kekepoan kita untuk lanjutkan membahas keduanya.

Kedua istilah tersebut mulai ngetren mengisi jagat kosakata di muka bumi ini sejak pertengahan tahun 2012 untuk istilah ‘KEPO’ yang kemudian jekaknya diikuti oleh istilah ‘Baper’ di penghujung tahun 2014. Berdasarkan usia, mari kita bahas KEPO terlebih dahulu — sebab yang tua sering mau duluan. KEPO, seperti yang dijelaskan sebelumnya, yang menjamah kita berkat kepiawaian aplikasi Blackberry Messenger menyebarluaskannya lewat tangan-tangan terampil para pengguna aplikasi tersebut. Tidak sama seperti kenaikan bahan bakar minyak yang seketika berdampak pula pada kenaikan harga bahan pokok lain serta biaya angkutan umum, istilah KEPO lebih mirip dengan Krim Impor Penumbuh Bulu asal Negeri Jiran — yang berbulan-bulan baru terasa dampaknya. Dalam keseharian saya di kampus, yang mana saya dan teman-teman saya sering saling tanya jawab tentang permasalahan apapun dari yang umum sampai yang bersifat pribadi bahkan pada hal yang sangat pribadi, akhirnya harus akrab dengan jawaban 'kepona deh' dari beberapa pertanyaan yang kami lontarkan. Dari pengalaman tersebut, pola interaksi kemudian cenderung berubah; hal-hal yang saya tanyakan adalah yang sudah dipilah terlebih dahulu agar tidak ‘pribadi’ sebelum ditanyakan, begitu pun kepada beberapa orang di sekitar saya. Dengan baper saya membatin; "Berubahna mo".

Karena saat itu saya baper, maka sekarang akan saya bahas tentang baper. Pernah sekali, saya — yang sedang berbinar-binarnya — chatting dengan gebetan lalu mendapatkan pesan balasan yang seingat saya tertulis begini; "Sudahlah kak, jangan baper". Dengan semangat yang membara, saya pun berpindah jendela dari aplikasi messenger menuju aplikasi browsing untuk bertanya pada OmG soal kata baper. Jawabannya singkat; ‘bawa perasaan’, saya yang saat itu mengira OmG sedang tidak mau diganggu — karena menjawab dengan singkat — kemudian bertanya pada teman, dan teman saya juga sepertinya sedang tidak mau diganggu saat itu, dengan singkat dan persis sama dengan jawaban OmG, ia menjawab; ‘bawa perasaan’. Dari jawaban itu pun saya berpikir, bagaimana bisa, saya yang berperasaan ini — sama seperti manusia-manusia lainnya — diminta untuk tidak membawa perasaan? Jujur, sampai sekarang, jawaban tentang hal itu belum saya dapatkan — juga jawaban darinya. Yah baper.


Sebagaimana yang telah saya tuliskan di atas, saya akan membahas kedua istilah tersebut sesuka saya maka saya akan melompat jauh dari pembahasan menuju pertanyaan sambil tidak menutup pembahasan ini.

“Apa yang zaman kehendaki atas kita, saat kita diajak untuk tidak kepo dan tidak baper?
Apakah kita sedang dibimbing menjadi pribadi yang serba privasi nan mandiri dan tidak lagi mau menoleh kanan kiri belakang atas permasalahan orang lain?”
Like what you read? Give Rijal Muammar H a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.