Lampu Sein sebagai Masalah Sosial Tembalang
Saya sedang mengendarai mobil dengan kecepatan agak tinggi di jalan belakang kampus. Jalanan tersebut sering kali sepi dan karena tidak ada tempat-tempat mampir di sepanjang jalan, menurut saya yang demikian ialah pembenaran untuk memacu kendaraan. Lalu ada pengendara motor berjalan pelan – saya jadi harus melambatkan laju. (Hipotesis saya, karena Semarang adalah kota dengan ritme hidup yang lambat, pengendara motor juga bergerak kurang dari 30km/jam. Lebih dari itu, mereka masuk angin.) Agar tidak ada efek lembam yang berlebihan, pengereman tidak saya lakukan dengan ekstrem; akibatnya, jarak pengereman menjadi jauh. Tapi, motor ini semakin lambat, melipir ke kanan sedikit, menyalakan lampu sein, kemudian belok kiri. Semua terjadi kurang dari satu detik. Saya terkaget lantas membunyikan klakson. Sang pengendara motor yang tidak diterima diteriaki oleh klakson menatap mobil saya dengan sinis. Lah!

Secara teknis, pengendara motor tersebut memenuhi semua aspek etika berbelok. Tapi ia lupa bahwa manusia hidup dalam ruang dan waktu. (Garis bawahi waktu.) Saya sebagai manusia butuh waktu untuk memahami maksud dan tujuan dari sein kiri orang tersebut; terlebih lagi, saya membutuhkan waktu untuk menerjemahkan apa yang saya tangkap dengan mata saya (lampu sein) kepada saraf motorik di kaki (untuk menginjak rem lebih dalam lagi) dan di tangan (untuk beralih sedikit ke kanan untuk menghindari tumbukan). Klakson lantang yang saya bunyikan sebetulnya bermaksud dua hal: Pertama, “Gila loe!”; kedua, “Gua ngerem mendadak supaya gak tabrakan. I just saved your life!” Tidak ada pembenaran baginya untuk melihat saya dengan sinis karena dua maksud klakson saya betul semua.
Pelajaran pertama: Jika hendak berbelok, gunakan sein sesuai dengan arah belok Anda. Persiapkan jarak untuk menyalakan lampu sein supaya maksud dan tujuan berbelok Anda tersampaikan untuk pengendara di belakang.
Di kasus lain, saya juga dibingungkan dengan orang-orang yang menyalakan lampu sein di mana memang tidak ada pilihan belok selain satu belokan. Misalnya, saya tiba di pertigaan di mana ada jalan ke kiri dan ke kanan. Namun, peraturan jalan tersebut mengharuskan kita ke kiri karena memang jalan yang akan kita lewati adalah jalan satu-arah (one-way street). Tentu saja saya tidak akan menyalakan lampu sein ke kiri (apalagi ke kanan) karena memang saya harus belok ke kiri. Semua manusia tahu saya akan ke kiri. Mana mungkin saya ke kanan?
Dalam kehidupan saya, kasus ini sering saya temukan di pertigaan Jalan Jatimulyo ke arah Jalan Prof. Soedarto (sebelah Pom Bensin Undip). Semua orang paham betul bahwa pengendara di depan saya — atau pengendara manapun — akan belok kiri karena mustahil ia belok kanan. Ada pembatas jalan yang menafikkannya untuk belok kanan. Lalu buat apa beri isyarat ke kiri? Saya tidak mungkin bilang saya akan naik ke atas karena naik pasti ke atas (tidak ada naik ke kanan). Dengan demikian, saya tidak mungkin mengisyaratkan saya akan belok ke kiri menggunakan lampu sein di pertigaan Jalan Jatimulyo ke arah Jalan Prof. Soedarto karena memang di situ harus belok ke kiri.
Pelajaran kedua: Kecuali Anda betul-betul orang yang mubazir, jangan beri lampu sein ke kiri jika memang pilihan Anda hanya belok ke kiri. Semua orang sudah tahu. Jika Anda yakin bahwa Anda harus tetap memberi lampu sein, Anda menipu diri Anda sendiri.
Berikutnya, saya akan membawa Anda ke perempatan jahanam Jalan Banjarsari (Barat)— Jalan Gondang Raya (Selatan) — Jalan Sipodang (Utara)— Jalan Timoho Raya (Timur). Perempatan ini penuh dengan hingar-bingar kesemerawutan miskomunikasi antarpengguna jalan. Dimulai dengan pengendara motor yang menghalangi jalan mobil dari arah berlawanan hanya sehingga dia bisa berbelok dengan santai dan mengesalkan dari Jalan Banjarsari ke Jalan Gondang Raya hingga, yang paling mengherankan, adanya mobil yang menyalakan lampu hazard ketika akan berjalan lurus dari Jalan Sipodang ke Jalan Gondang Raya. Mungkin dia pikir karena kegunaan sein kiri untuk mengindikasikan niat untuk belok kiri dan kegunaan sein kanan untuk mengindikasikan niat untuk belok kanan, menyalakan keduanya berarti mengisyaratkan lurus terus.
Memang, jika diperhatikan, Jalan Banjarsari — Jalan Timoho Raya merupakan jalur prioritas dibandingkan dengan Jalan Sipodang — Jalan Gondang Raya (dalam artian jalur tersebut lebih utama). Berangkat dari utara ke selatan ibarat menyeberangi sungai yang arusnya deras. Namun, menyalakan lampu hazard tetap tidak dapat dibenarkan. Lampu hazard tidak digunakan untuk memberitahu semua orang bahwa Anda akan jalan lurus di perempatan; lampu tersebut berfungsi untuk memberi isyarat bahwa kendaraan Anda sedang berada dalam kedaruratan. Jika Anda panik karena akan menyeberangi jalan besar, itu tidak dapat disebut kedaruratan kendaraan. Itu membuktikan Anda belum cukup mapan untuk memiliki Sim A.
Terlebih lagi, jika Anda ingin menyeberang ke Jalan Gondang Raya dari Jalan Sipodang, pikirkan tentang pengendara lain yang berada di tiga jalan selain Anda. Saya, misalnya, sedang mengedarai roda dua dari Jalan Timoho Raya ke Jalan Banjarsari. Lalu saya melihat ada mobil Anda ingin entah berbelok atau lurus terus (saya tidak bisa menerka). Lantas, saya melihat lampu sein kiri Anda menyala, jadi saya memutuskan untuk tancap gas. Alangkah terkejutnya saya ketika lajur saya dihalangi oleh Anda yang ternyata ingin lurus terus. Ternyata, Anda menyalakan lampu hazard sebagai pseudo- dan kuasi-isyarat ingin lurus.
Melihat kasus di atas, mengapa saya hanya bisa melihat lampu sein kiri? Ya karena saya datangnya dari kiri. Lampu sein kanan Anda mungkin menyala, tapi kendaraan-kendaraan lain di kiri Anda tidak melihatnya. Tidak salah jika mereka mengira Anda akan belok kiri.
Dalam skenario lain, jika Anda tidak menyalakan lampu hazard, maka lampu sein kiri Anda tidak akan menyala. Saya, yang datangnya dari kiri Anda, secara otomatis akan paham betul bahwa Anda tidak akan belok kiri. Jika lampu sein kiri Anda tidak nyala, kemungkinannya adalah Anda akan belok kanan atau lurus terus. Keduanya mengharuskan saya untuk berhenti dan memberi jalan untuk Anda.
Pelajaran ketiga dan terakhir: Kalau Anda mau lurus terus dalam perempatan sibuk tanpa lampu lalu lintas, jangan nyalakan hazard.
