Tentang Hidup Ini yang Sulit

Siang tadi, tepatnya pukul 15:41, saya terjebak kemacetan di Jalan Juanda. Suara podcast BBC Four Philosophy menemani saya; si pembawa acara Melvyn Bragg bersama beberapa narasumber berbicara mengenai Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) dan ada sebuah kutipan yang menarik:

[Frankfurt Scholars] are not worried about not being affirmative — they’re happy to be completely negative. That’s one of the things they hated the most about the United States […] People keep telling them to keep smiling all the time: to be happy all the time. It’s exhausting to live in this country […] “Sometimes I just want to feel depressed” […] They have no objection to this Schopenhauerian view that the world is basically a horrible place — an evil place. It could be so much better but it is only what it is. “It could be paradise,” Adorno says, “but instead of being paradise, it really just is California.”

Saya tercengang sejenak, kemudia terenyuh lama. Sejenak juga, saya menolak jika ada yang berani bilang, “the world is basically a horrible place.” Mana mungkin! Epikurus saja bilang hidup itu nikmat jika semuanya berkecukupan — hidup itu nikmat jika ditemani anggur yang baik dan teman-teman yang baik.

Tetapi saya teringat juga akan sebuah video di YouTube yang menjelaskan Stoisisme, sebuah paham yang sangat pesimis tapi juga sangat berguna. Stoisisme adalah mantra saya ketika, misalnya, sedang dilanda apa yang saya sebut dilema berkala akhir-bulan (ketika harus mengompres pengeluaran untuk makan dari Rp50.000,00 sekali makan menjadi Rp8.000,00, lalu saya bertanya-tanya apa hidup akan baik-baik saja setelah ini).

Di video tersebut, sang narator menjelaskan:

When you’re feeling anxious about something, most people are maddening. They believe it’s their duty to ‘cheer you up’. However intelligent they might otherwise be, they say things like: “IT’LL BE OKAY,” “DON’T WORRY,” or even, “CHEER UP!” The Stoics were appalled.

Bahkan, untuk menekankan betapa appalled-nya mereka, sang pengunggah konten menambahkan foto ini.

Melanjutkan gambar kucing besar tersebut yang sedang mengamuk ala Stois, Stoisisme tidak senang dengan menye-menye yang memberi harapan. Stoisisme tidak senang dengan nasihat-nasihat yang berbau “nggak usah khawatir; gak akan kenapa-napa kok”. Bohong, kata Stois.

Saya ingin bertanya tentang sebuah tindakan jahat. Sekilas, jika ada teman yang sedih, beban moral mewajibkan kita untuk menghiburnya dengan kata-kata yang memberikan harapan. Misalnya, dia terlambat mengumpulkan tugas yang mana ia yakin akan ditolak dosen. Ada seorang “teman” (sengaja diberi tanda petik) yang dengan percaya dirinya bilang kepadanya: “Gak apa-apa. Coba aja dulu. Pak A ‘kan baik, jadi mungkin diterima.” Tugas tersebut ternyata tidak diterima. Lalu, yang terlambat sedih.

Sehubungan dengan itu, saya melanjutkan pertanyaan: Apakah tindakan si “teman” tersebut jahat?

Stoisisme bilang bahwa mereka yang jahat adalah yang mengangkat harapan orang lain sehingga mereka tidak siap jatuh (those who build up another person’s hope only to find them unprepared for the fatal, ultimate fall). Si “teman yang baik hati” tadi mengangkat harapan si terlambat (“Bener nih, kayaknya masih bisa ngumpulin,” kata si terlambat dalam hati), tetapi si terlambat harus rela ditampar di wajah oleh kenyataan.

(Ini sebabnya ada pepatah bahasa Inggris yang bilang bahwa “the road to hell is paved with good intentions”. Bapak-bapak dan ibu-ibu, kekampretan seseorang itu kadang-kadang memang tanpa batas.)

Tapi, sesuai ajaran Stoisisme, semua akan baik-baik saja. Khawatir sekarang, tapi semua akan baik-baik saja. Tugas Anda mungkin ditolak dosen, tapi semua akan baik-baik saja. Syaratnya, Anda harus menerima klausul ini:

It could be so much better. Instead, it is just Jawa Tengah.

Hidup ini sulit. Anda, sebagai teman yang baik, jangan membohongi teman Anda sebaliknya.

Like what you read? Give Kevin Ali Sesarianto a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.