Ag.ro.i.kos

Khumaerahs
Jul 22, 2017 · 3 min read

Anggap saja sebagai ingatan yang buruk. Saya tertegun sekali lagi mengingat bahwa hal-hal buruk itu telah berlalu tapi menyisakan ingatan yang begitu mendalam. Ada sedikit traumatik tersendiri, saya tidak tau apakah saya harus berbagi cerita ini atau tidak, bukan hal yang memalukan, ini hanya sedikit pilu dan mungkin orang-orang akan mulai mengasihani. Tapi biarlah saya bercerita sedikit bagaimana saya melalui itu dengan sedikit ketidak warasan yang ada.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, biar saya ingat-ingat lagi, ini terjadi saat saya masih duduk di taman kanak-kanak. Rasa takut untuk berteman;seorang bocah umur 5 tahun sudah merasakan rasa takut dalam dirinya. Itu tidak baik, seharusnya saya memang banyak bermain tapi itu dengan diri saya sendiri. Ada batas teritorial yang tidak bisa orang-orang lewati, itu yang membuat saya berpikir keras untuk berteman. Ini bukan karena anti sosial hanya saja tidak nyaman, mungkin.

Ketika saya berada di kerumunan orang banyak, mereka akan menatap aneh kemudian berbisik-bisik entah apa, atau itu hanya perasaan saya saja. Umur 5 tahun saya cukup tidak menyenangkan, tidak ada hal menyenangkan yang bisa di ingat. Terkunci di gudang kecil nan gelap adalag ingatan yang paling buruk hingga saat ini dan masih menjadi traumatik yang membuat saya stress sendiri. Baiklah akan saya doakan yang terbaik untuk orang yang menciptakan traumatik ini pada saya.

Saya mengingatnya seorang gadis kecil yang menurutku sedikit aneh, kelasnta berada di sebelah kelas saya. Hari itu saya lupa tanggal berapa tepatnya, ia merayakan ulang tahunnya di sekolah dan semua teman-temanku menyambut meriah hari itu. Saya berdiri di barisan belakang, mengantri untuk di bagikan paket ultahnya. Dia tersenyum cukup tulus menurutku, ahh saya cukup ingat bagaimana dia menyembunyikan sepatu saya di bawah lemarin hingga seharian saya tidak keluar kelas karena mengira sepatu saya hilang. Itu hal yang buruk bagaimana seorang bocah sepertiku hanya memiliki kenangan tentang itu.

Hanya saat saya berada di sekolah dasar, saya memiliki teman karena saya mulai berpikir jika hanya sendiri itu akan merepotkan melakukan sesuatu. Jadi saya mulai berpikir untuk berteman. Semuanya berjalan lancar saat itu tapi lagi-lagi bukan saya yang menjadi pelaku utama.

Sampai sekarang saya selalu berpikir apa yang salah dan yang harus dilakukan. Saya masih saja takut untuk memikirkannya dan takut untuk berbuat sesuatu. Sekali melangkah selalu saja saya meragukan diri saya. Saya mulai kesal karena tidak bisa mengendalikan diri saya sendiri. Banyak orang yang bisa menjadi diri mereka sendiri, tertawa dengan tulus, berbicara dengan orang banyak. Tapi saya tidak bisa melakukannya atau bisa dikatakan sejak kecil saya tidak menyukai orang-orang. Ini bermula karena orang-orang hanya mengeluhkan mereka yang berada di tingkatan atas. Rasa percaya diri saya mulai runtuh. Rasanya semua yang saya dapatkan hanya jalan buntu.

Saya berusaha untuk terlihat baik-baik saja, karena orang-orang di sekitar menuntut hanha ingin melihat apa yang terbaik dari kita tanpa celah.

Setelah semua hal buruk terjadi ini menjadikan saya pribadi yang berusaha berhenti untuk berpura-pura. Menulis adalah terapi yang bagus untuk kewarasan saya saat ini. Sekarang saya akan berusaha menjadikan ingatan itu tidak berlebihan menggerogoti pikiran saya dan akan menjadi lebih percaya diri lagi.

Khumaerahs

Written by

tanya dulu, lalu titik. -Angsa Hitam-

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade