Entah mengapa, sepertinya aku lebih mencintaimu ketika menjadi dirimu yang lain.
Dirimu yang bersamaku, rasanya terlalu berhati-hati— tidak apa adanya.
Seperti tidak ingin aku mengerti, sebenar-benarnya semestamu.
Hanya perasaan takut merengkuhmu, entahlah— itu prasangkaku.

Aku tidak pernah mengetahui segalanya,
Terlalu banyak pertanyaan aku titipkan pada sepertiga malam,
Dan kata-kata beserta kejujuran tidaklah cukup— bagimu, aku rasa.
Kamu lebih memilih memasrahkan jawaban-jawaban kepada gelap malam.

Atau mungkin saja semua itu salahku, 
Yang menjadi sebab kamu bersembunyi, hanya menampakkan sebagian— bahkan tidak.
Aku selalu ingin menjadi pendengar ceritamu, ketika aku tidak sedang.
Dan juga kita terlampau kerap mengeluhkann saling, tetapi nampaknya terlalu banyak yang rumpang.

Hingga mengapa harus tetap pun, kedua dari kita tidak memiliki alasannya.
Aku hanya iri pada caramu berkeluh pada selain aku,
Mungkin aku adalah sebab kebisuanmu, aku tidak tahu.
Yang aku tahu, aku hidup dalam kata-katamu tetapi mati pada setiap percakapan kita.

— #destrafalso.

Like what you read? Give Khumaerahs a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.