Webb

Gary Webb

Barangkali, kesialan terburuk adalah keterasingan. Tak dihiraukan. Badiou benar soal sebaris tafsiran kata adil, “…. Keadilan itu remang dan gelap.” Sebuah ruang dengan bentukan makna yang apriori. Dan dalam remang yang gelap itu, pembunuhan karakter dan kehilangan identitas menjadi bagian yang terburuk. Laku yang Banal.

Gary Webb adalah satu dari sekian manusia yang merasakannya. Jurnalis dari San Jose Mercury Newsini menuliskan tiga seri tulisan yang berjudul Dark Alliance di tahun 1996. Ia mengungkap keterlibatan CIA dalam pendanaan untuk kelompok paramiliter yang bernama Contra pada perang di Nikaragua, serta membeli narkoba untuk di jual di Amerika. Keuntungan penjualan tersebut sekali lagi digunakan untuk membiaya segala perlengkapan dan persenjataan perang, agar Nikaragua tak jatuh di tangan komunis.

Ketika hasil liputannya terbit, seri tulisan yang berjumlah 20.000 kata tersebut memantik perhatian warga dan menjadi perbincangan nasional. Berbagai tawaran wawancara mulai berdatangan ke tangan Webb. Mulai New York Times, LA Times, Washington Post, NBC News, dan media nasional lainnya. Dan untuk pertama kalinya, Nama San Jose Mercury News menjadi terkenal. Surat kabar yang awalnya beroplah kecil tersebut menjadi perhatian. Para kru redaksi memberi ucapan selamat ketika Webb berhasil menyelesaikan laporan investigasinya.

Protes dan demonstrasi terjadi demi menuntut fakta dan kebenaran mengenai keterlibatan CIA. Seperti yang diketahui, CIA tak tinggal diam. CIA membantah seluruh tuduhan Webb dan menyatakan laporan Webb adalah bentuk konspirasi dan kebohongan besar. CIA tahu jika pada saat itu mengakuinya maka akan terjadi gejolak politik secara nasional dan merusak citra lembaganya. Tak punya cara lain, CIA menggunakan strategi untuk menghajar dan memukul kembali Webb, yakni dengan membunuh karakter si pembawa pesan, “Kill The Messenger.”

Organisasi yang bermarkas di Virginia tersebut membongkar seluruh kehidupan pribadi Webb, dari masa kecil hingga paling kelam. Mereka membunuh kredibilitasnya. Homoseksual, tempramen, dan segala tendensi perilaku aneh Webb juga diberitakan. Tak hanya itu, harian media nasional — termasukWashington Post & L.A Times — turut menghujat Webb dan menyangkal laporannya sebagai sebuah kebohongan belaka dan tak berdasar. Bahkan, editornya sendiri yang awalnya mendukung dan percaya terhadap upaya Webb, malah berbalik arah dan berperilaku sebaliknya.

Ia dipukul balik, dihajar habis-habisan secara psikis disertai dengan teror yang menghampiri keluarga dan dirinya. Akhirnya,Webb dipindahtugaskan ke daerah biro San Jose Mercury News lainnya, di kota kecil, Cupertino. Setelahnya, ia mengundurkan diri dari profesi jurnalisnya. Delapan tahun setelah publikasi laporan Dark Alliance terbit, tepatnya penghujung desember 2004, Webb mengakhiri hidupnya di usia 49 dengan 2 tembakan di kepalanya. Tragis.

Setiap kali ada kematian dengan proses bunuh diri, saya selalu terbayang apa yang dikatakan Camus, “Persoalan serius dan yang sulit dipahami dalam filsafat adalah bunuh diri.” Schopenheur juga pernah menulis esai pendek tentang bunuh diri yang ia sebut sebagai “Teror Kematian”. Saya sependapat dengan Camus. Tak mudah memahami mereka yang ingin mengakhiri hidupnya dengan cara sendiri. Ada momen yang tak terungkap, yakni sesaat sebelum pistol itu ditembakkan.

Pandangan lain juga diungkapkan oleh Kant. Ia lebih sinis memandang kondisi di mana seseorang berani mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam karyanya The Metaphysic of Moral (1797), Kant menganggap bahwa tindakan bunuh diri lebih rendah dari binatang. Dengan kata lain, bunuh diri merupakan tindakan terbodoh yang pernah dilakukan manusia, sehingga ia tak lebih tinggi moralnya dari seekor binatang sekalipun.

Otoritas tubuh manusia, lanjut Kant, adalah milik yang Kuasa, sehingga manusia tak diberi tempat jika ingin mengakhiri dan juga membuang hidupnya sendiri. Bunuh diri adalah bagian dari kesia-siaan baginya. Namun, tiga abad setelahnya, Camus lebih jeli dan cukup tegas dalam menganalogikan persoalan bunuh diri tersebut. “Pada akhinrya, butuh lebih banyak keberanian untuk menjalankan hidup daripada bunuh diri,”ujar Camus. Apa yang diungkap oleh Camus, juga sudah pernah diucapkan oleh seorang filsuf Stoikisme pada abad ke-4 SM, Lucius Annaeus Seneca. Seneca kurang lebih mengutarakan hal yang sama, “Sometimes even to live is an act of courage.”

Dan di sini, Webb memilih mundur dari perjalanan hidupnya. Mungkin, ia tak cukup yakin pada babak berikutnya Barangkali, humor dan gelak tawa telah habis. Webb tak cukup berani dan punya nyali dalam menjalankan sisa-sisa eposnya. Gandhi pernah berseloroh soal bunuh diri, ia akan mencoba melakukannya jika, “Saya kehilangan rasa humor.” Di sini, peran humor tak sekadar jadi bingkai pigura dari ekspresi. Ia bagian subtil dari hidup dan diperlukan.

Webb tak melihat hal ini. Ia kalah dalam pertarungan mental, tak bertahan dalam gempuran. Ia tak siap menghadapi kondisi impromptu. Namun, apakah bunuh diri yang dilakukan Webb adalah bagian dari sikap heroik? Adakah kepahlawanan di sana? Atau apakah bunuh diri adalah jalan keluar kemandekan dari setiap persoalan?

Pada akhirnya, CIA memang mengakui turut mengintervensi dan mendanai perang di Nikaragua, namun organisasi tersebut menolak laporan Webb yang menunjukkan bahwa mereka turut memasok narkoba untuk dijual kembali. Webb adalah korban dari satu kebobrokan sistem. Dan juga kepentingan yang tak terselesaikan oleh persoalan zaman dan pengakuan identitas yang tak usai.Tak mudah menganggapnya seperti itu

Webb bukanlah jurnalis seperti Bob Woodward, Carl Bernstein, ataupun kalangan NYTimes, Guardian,atau reporter Aljazeera maupun MotherJones.. Ia hanya jurnalis biasa yang menulis persoalan lokal. Yang menulis perihal kasus kriminalitas dan lingkup kekerasan regional. Tak sedikit, pada saat itu kalangan jurnalis lainnya menilai tulisan Webb memiliki standar jurnalistik yang tak kuat. Mulai dari bukti hingga verifikasinya. Satu hari ia pernah berujar, “Anda tak harus menjadi seperti The Post (Washington Post) atau The Times (NYTimes) untuk mendobrak isu-isu nasional.”

Barangkali, bunuh diri adalah jalan keluar yang masuk akal. Tak mudah bagi Webb untuk menjadi Alter Ego, kala itu. Dan, kematian pun semakin akrab, sekarib masa lalu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.