Bagaimana Bertanya Kepada Tanya Yang Tak Tahu Apa-apa

Muhammad Ihsan
Aug 24, 2017 · 3 min read

Kau mau tanya apa? Benarkah kau sungguhan mau bertanya atau hanya sekedar basa basi? Atau apa kepentingan bertanyamu? Tapi apakah pertanyaan juga harus berkepentingan? Bagaimana jika pertanyaan tak memiliki jawaban? Atau mungkin pertanyaan memang tak butuh jawaban, atau bisa jadi pertanyaan memang tak punya jawaban? Atau bagaimana? Sebelum bertanya, wajibkah bagi kita untuk mulai dari kesadaran awal dulu bahwa kita ini memang harus mulai belajar bertanya?

Anggap saja aku tak punya jawaban atau solusinya dan memang benar seperti itu.

Bertanya adalah pekerjaan meminta keterangan, penjelasan atau usaha dari tidak tahu menjadi tahu. Bertanya butuh dua aktor utama yaitu penanya dan penjawab. Dengan syarat bahwa harus ada yang ditanyakan. Kemudian melakukan usaha dengan menanyakan hal tersebut.

Tapi perlukah pertanyaan itu ditanyakan? Kenapa harus ditanyakan, atas dasar apa?

Ketidaktahuan bisa menjadi salah satu faktor kenapa sesuatu itu ditanyakan. Tahu itu menggiurkan, menjadi tahu adalah pekerjaan yang menggairahkan. Setidaknya membuat diri merasa lebih tahu daripada mereka yang tidak tahu.

Namun sebelum itu sampai ke tahapan yang lebih jauh, ada pertanyaan lain misal, benarkah pertanyaan itu memang baiknya ditanyakan oleh si A kepada si B dan bukannya ditanyakan kepada si C, atau seharusnya yang harus bertanya adalah si B kepada si C, atau kemungkinan lain bahwa yang harus bertanya adalah si C yang harus bertanya pada si A lalu kemudian baru ditanyakan ke si B, dan seterusnya-seterusnya, sampai lipatan-lipatan tak terhingga ujungnya, buntu.

Bagaimana ukuran yang baik sebagai penanya dan penjawab? Yang tanya harus tahu yang ditanyakan dan penjawab punya kemungkinan untuk mampu menjawab, begitu jawaban yang muncul tiba-tiba dari running text di otakku.

Tahu yang ditanyakan itu bagaimana. Mengerti posisi pertanyaan, mengerti posisi yang bertanya kepada yang ditanya, serta mengerti posisi yang ditanyai. Jadi sebelum bertanya coba kembali ukur, apa perlu pertanyaan itu ditanyakan, posisi ketika bertanya apakah untuk mencari apa, atau menemukan apa atau bagaimana. Lalu di ukur apakah penanya sudah menarik garis dari kemungkinan-kemungkinan. Misal mengukur psikologi dirinya sendiri dan penjawab, keadaan saat itu dan atau mungkin korelasi terhadap hidup penanya dan penjawab.

Sebegitu sulitnyakah hingga harus di ukur-ukur dulu? Sebenarnya siapa sih yang harus menjadi penanya atau penjawab. Aku sebagai penanya dan engkau sebagai penjawab, aku menjawab. Tapi, bagaimana dengan pertanyaan yang ditanyakan pada diri sendiri, masihkah itu disebut pertanyaan, bisakah kita memerankan peran ganda, tiga, atau bahkan lebih dalam diri. Aku ikut asal menjawab saja, bisa. Bukankah ide, kreatifitas itu juga muncul karena pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Ini bagaimana, apa yang harus aku tuliskan atau bagaimana? Kemudian secara tiba-tiba otak kita memberikan jawaban, nah!.

Orang, kau atau aku bertanya sebab ada hal yang ingin ditanyakan, diketahui, di cari tahu. Sebab itu lalu mendorongnya bertanya pada yang bisa ia tanyai sesuai dengan kapasitas jangkauan, keilmuan, dan ukuran yang ia gunakan untuk mendapatkan jawaban. Pertanyaan memancing jawaban, tapi seperti kail dengan ikan, pancingan tidak akan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Terkadang butuh waktu, butuh proses, butuh paham ini dulu baru sampai itu, dan entahlah.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seperti hujan yang jatuh bertubi-tubi. Dan aku adalah korban dari derasnya pertanyaan-pertanyaan itu. Ku tangkap satu, dua, tiga, tapi sepuluh, ratusan lain lepas kendali dan memukulku. Aku bungkam. Akhirnya aku pasrah pada kesimpulan sementara, bahwa pertanyaan untuk bertanya ini tak seharusnya aku tuliskan, sebagaimana tak seharusnya aku memikirkanmu saat fokus menuliskan tulisan ini.

)
    Muhammad Ihsan

    Written by

    Masyarakat Biasa