Guyon Angkringan #1 : Sandi Sang Programer

Menurut kalian, siapa pemilik tulisan paling sangar di dunia? Kalau ada yg menjawab dokter, maka kalian termasuk orang yang ikut kelompok mayoritas. Tapi kalau ada yg menanyakan itu kepada saya, saya tak akan menjawab dokter. Tahu sebabnya?, karena saya baru tahu ternyata ada tulisan lain yg lebih sangar daripada tulisan dokter, yaitu tulisan seorang programmer.

Kalau tulisan dokter, setidaknya masih membentuk huruf yang pasti, walau sering tidak jelas tapi toh apoteker masih mampu membacanya. Tapi lain cerita dengan tulisan programmer, butuh kerja keras dan pikiran yang benar-benar siap untuk membacanya. La bagaimana tidak, kalau huruf atau angka yang dibaca sih masih mending, kebingungan akibat tulisan yang tidak jelas masih bisa dirunut dari susunan kalimatnya. Lah kalo programmer?, Saya pikir saya harus angkat 4 jempol ditambah 3 jempol teman saya lagi untuk mereka yang bisa memahami tulisan programmer. Karena bukan tanpa sebab, membaca tulisan programmer butuh jam terbang yang sangat tinggi, kreatifitas dan daya imajinasi yang sama pula. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya wkwk.

Tulisan programmer tidak melulu soal huruf dan angka, melainkan bisa saja kombinasi antara huruf dengan garis, garis dengan bentuk serta pola-pola rumit didalamnya. Jadi jika sekarang banyak sekali penemuan mengenai enkripsi dan tetek bengek semacamnya, tidak lain tidak bukan adalah programmer pakarnya. Mulai dari tulisannya saja sudah disiplin untuk dienkripsi, bagaimana dengan yang lain.

Saya menduga mereka ini memang punya kesaktian, punya sesuatu yang hanya bangsa mereka yang tahu. Semacam bahasa untuk mereka sendiri berkomunikasi.

Dalam satu kasus misal, pernah saya terlibat diantara dua programmer yang sedang berdiskusi. Membicarakan tentang masalah aplikasi keuangan yang akan dilakukan penyesuaian di beberapa tempat. Ini lumrah terjadi karena setelah aplikasi di testing ditemukan beberapa kejanggalan yang harus diperbaiki.

Nah, singkat cerita kami mulai berdiskusi. Supaya lebih gampang memahami alurnya, saya siapkan selembar kertas dengan pulpen untuk oret-oretan. Ini cara agar setiap alur lebih mudah dimengerti dan dipahami. Tapi nasib ternyata berkata lain.

Satu dua coretan masih jelas, 3 masih lumayan. Sampai suatu ketika hitungan itu tiba diurutan sepuluh. Tak perlu saya jelaskan, kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya? Yup tepat, ruwet sudah bhaha.

Obrolan itu kemudian berlanjut hanya dengan 2 orang partisipan inti, programmer 1 dan programmer 2, sementara saya hanya sebagai bawang kosong, atau pelengkap yang tak terlalu dianggap, tak bisa apa-apa selain pasrah dan menyerah.

Sekarang coba bayangkan kembali, la saya ini bisa apa coba. Mereka bicara dengan menggambar dan menuliskan pola-pola yang hanya mereka sendiri yang tahu, sedetik saja saya berpaling, butuh 10 menit untuk mengikuti alur diskusi mereka kembali. Itupun cuma ikut ngah ngoh tok lo, ya yo tok, nggak ada jaminan paham atau mengerti sama sekali. Ditambah lagi topik yang dibahas ini soal keuangan lo, bukan yang lain. Jadi ingat, jangan macam-macam. Soalnya ini masalah duit lo, duiiit. Salah rumus saja angka bisa berubah, kalo rugi siapa yang mau tanggung?, siapa yang mau ganti rugi?, Bapakmu?, Paklekmu atau Budemu?. Ah ndak cukup saya yakin. Apalagi saya, kalau misalkan saja seluruh harta saya ini saya kumpulkan, paling hanya seupil dari total keseluruhan duit yang harus diganti. Itupun masih harus dibagi 10. Jadi jangan main-main lo, ini soal serius jangan bercanda.

Pada akhirnya setiap kali perbincangan itu mereka lakukan, apalagi sampai melibatkan saya didalamnya. Andalan saya saat itu tak lain adalah kemantapan hati dan keluasan pikiran. Kalau misalkan tetap tak mampu saya pahami bahasan mereka, apa mau dikata. Yang bisa saya lakukan hanya memejamkan mata sambil mbatin dan sambat sama Tuhan.

duh Gusti paringono kuat iman lan ati, niki ujianMu kok yo abote setengah mati, nek misal kula pun mboten sanggup nangani, mugi Panjenengan kerso nandangi, lan nyuwun tulung halalne pil kalian ekstasi”

Like what you read? Give Muhammad Ihsan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.