Komedi Indonesia yang Sarat Testosteron
NV Hamid
466

Hi NV. Gue juga (masih) punya ketertarikan menulis di genre komedi meski gak serta-merta jadi komedian. Gue mencoba memulai dengan iseng nulis screenplay (on progress) yang nantinya entah mau diapakan (alternatif dari memulai sebagai performer).

Gue juga, suka karya-karya dari Tina Fey baik SNL, 30 Rock, maupun Bossy Pants (mungkin lo bisa memulai dengan mmenulis buku?). Selain dia, gue juga terinfluence dengan karya-karyanya Louie, Gervais, Conan (he was a good writer), dan A. Ianucci (creator Alan Partridge dan Veep!) dan Steve Coogan.

Kay, enough with the intros. Intinya adalah gue setuju dengan konklusi di akhir artikel ini. Namun demikian, menurut gue persoalannya malah lebih dasar lagi dari soal “testosteron” melainkan soal “sensibilitas”. Entah itu sensibilitas terhadap isu yang berkembang, entah itu sensibilitas terhadap dampak dari produk komedi mereka ke penonton rasanya keduanya rendah.

Contoh: Louie writes jokes about genitals, gay, feminism, all the time tapi bukan dengan konteks menjatuhkan tapi ke provokasi biar isu tersebut bisa lebih sering dibahas secara awam (ya ga selalu sih kadang ngambil unsur absurditasnya doang hehe).

Lo pasti udah ngerti lah dengan apa yang gue omongin, cuma pengen dialog soal komedi terus ada aja sih. Sigh. Maaf kalo panjang dan ada yang terkesan snobbish dan/atau pretensius. Ditunggu tulisan selanjutnya!