because nothing lasts forever

banyak dari kita terjebak dalam melankolia sendiri. tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang takut nggak bisa dihadapi. tentang bagaimana jika begitu atau begini. tentang apabila dan seandainya yang kemungkinan besar akan menghantui.

padahal, kita tau, waktu selalu bisa mengobati. selalu. tapi kita memilih untuk lupa. atau memang kewarasan dan akal sehat tak bisa menang melawan perasaan-perasaan yang meraksasa.

karena sebenarnya, tidak ada yang bisa selamanya. semuanya fana. sementara. you’ll be forgotten and the world keeps on turning with or without you. menyakitkan? iya.

banyak dari kita menghindari perpisahan, lari dari kehilangan, tak mau kenal dengan selamat tinggal, menolak melepaskan. padahal semua itu adalah kepastian.

dan andaikata hati mau mendengar otak sesekali, dia mungkin bisa mulai belajar untuk tidak lagi terlalu berharap dan merasa memiliki. menggenggam erat seperlunya, memberikan yang terbaik sebisanya. karena dengan begitu, setidaknya luka nggak akan terlalu perih lagi. dan nantinya, pada setiap sapa pertama, kita akan mulai bisa menakar seberapa banyak yang harus diberi. sebelum segalanya dibawa pergi.

ketika saat itu tiba, kita harus ingat: segalanya akan baik-baik saja pada waktunya nanti. dan sekalipun hanya sekelebat masa, setidaknya kita sadar pernah bahagia bersama, pada satu titik di mana garis takdir kita dipertemukan oleh yang empunya dunia.

nothing lasts forever. and it’s okay not to be forever.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.