Musisi Sejati Bersahabat Dengan “Baper”

Saya masih ingat dengan jelas obrolan singkat bareng om Donny Suhendra (Krakatau band) beberapa tahun silam di Cimahi. Beliau bilang “Musisi itu pada dasarnya keras kepala dan egois”. Saya setuju. Buktinya tak usah jauh-jauh : saya sendiri secara fisik memiliki gangguan pendengaran, tapi saya keukeuh main musik, tak peduli dengan gangguan apapun. Pokoknya main musik, berkarya lewat musik, mewarnai hidup dengan karya musik, itu keharusan bagi saya. Terlahir dari passion, bukan fashion.

Apakah itu berarti saya egois? Tidak juga. Sedikit… Memaksakan kehendak? Tidak juga. Gila obsesi? Sangat jauh sekali. Tentu saja tidak juga. It’s all about art, baby. The art of my life and soul…

Terlebih lagi saya orangnya sensitif. Mudah frontal. Sensian karena sering baper alias suka bawa perasaan. Apa-apa baper. Teman tidak suka Nirvana, saya baper. Ada yang lebih suka lotek daripada karedok, saya baper. Bagi saya, semua orang harus menyukai Nirvana dan karedok. Tidak hanya satu saja. Semua orang harus coba. Semua orang wajib eksplorasi. Meskipun selera itu relatif. Itulah saya si egois dan keras kepala. Tidak suka? Itu masalahmu.

Musik itu bahasa universal para musisi. Orang Korea bisa saja menggilai musik rock Indonesia karena enakeun (enak didengar, -pen.). Tidak harus mengerti bahasa Indonesia. Bahasa apapun tidak masalah. Orang Timbuktu bisa menyukai musik keroncong dan gamelan asli Jawa. Meskipun tidak mengerti bahasa Sunda dan Jawa. Tak masalah baginya jika hip hop merajai chart musik dunia. Baginya keroncong itu ngeunaheun (enak dinikmati, -pen.) . Pagi, siang, malam harus setel musik keroncong di pedalaman desa Timbuktu bersama keluarganya. Sebab itulah saya selalu heran dengan teman saya di Indonesia yang mewajibkan karya musik band negeri Indonesia hanya menggunakan lirik dengan bahasa Indonesia saja. Kok malah masalahin bahasa alih-alih musiknya? Kebebasan berekspresi hilang sudah. Ngeri..

Belum lagi dengan segala macam taktik dan strategi demi kepentingan mengumpulkan massa. Baginya “main musik mah teu kudu alus, nu penting tongkrongan aing panghadena, si eta mah butut kalakuan” (artinya ‘main musik tidak perlu bagus, yang penting tempat nongkrong saya yang paling keren, si itu kelakuannya jelek’ -pen.). Lagi-lagi saya baper. Yaiyalah pasti baper. Saya bawa perasaan disana membayangkan orang-orang yang memang berbakat dan jenius di luar sana tak mendapat respon positif, apalagi dukungan. Ok fix. Orang berbakat dan jenius tidak boleh eksis. Tidak boleh berkarya. Tidak boleh punya massa. Padahal massa datang sendirinya. Orang yang memang berbakat musik akan selalu memiliki fans loyal murni karena musiknya. Bukan sekedar prestise sosial.

Musisi manapun akan selalu senang dan bahagia ada penggemar musiknya yang jujur tanpa paksaan. Poin penting itu lebih patut dihargai daripada punya massa yang ikut-ikutan tren. Tak ada yang lebih berarti dari itu. Meskipun penggemar musiknya yang jujur hanya satu-dua orang. Meskipun respon di Facebook sangat minim karena lebih banyak pertikaian. Penggemar yang jujur meski hanya satu orang itu lebih berfaedah. Ucapkan syukur jika bandmu lepas dari orang-orang yang munafik dan syirik. Apalagi jika bandmu lepas dari lingkungan yang sudah terpengaruh hipnosis massal. Bersyukurlah. Lanjutkan hak asasimu untuk bebas berekspresi. Jangan takut tidak punya fans. Sebanyak apapun jimat yang musuhmu punya, setinggi apapun ilmu supranatural yang rivalmu miliki, jangan takut. Semua itu tak akan berpengaruh jika kamu memang ditakdirkan lahir sebagai musisi. Kamu bukan musisi sejati kalau lebih mementingkan massa yang banyak. Facebook likers, YouTube viewers, Instagram followers itu hanya angka. Kalau kamu picik, gampang saja. Tinggal beli likers, viewers, followers yang sedang marak di dunia medsos. Murah pula. Bahkan kalau kamu jago dunia internet developing, kamu bisa bikin sendiri dengan gratis. Tapi ingat, sebanyak apapun massa yang kau kumpulkan, musikmu yang akan membuktikannya. Performa, karisma, sisi unikmu yang akan lebih nyata. Silakan kumpulkan massa yang banyak jika hanya itu saja yang kamu bisa. Saya mah mau main musik, mencipta lagu, berkarya bersama teman-teman lain di band.

Ada satu hal yang tak bisa lepas dari kebiasaan saya ketika baper. Yaitu, menulis. Terutama menulis lagu. Semua lagu yang saya cipta adalah hasil baper. Tidak masuk akal kalau diantara para musisi yang mengklaim dirinya paling hebat paling jago, menertawakan orang-orang baper. Kurt Cobain tak akan menulis lagu Smells Like Teen Spirit dan Aneurysm kalau dia tidak baper sama Tobi Vail. Bayangkan Kurt Cobain tak pernah baper. Tidak akan lahir karya-karyanya yang melegenda.

Sebab itulah, temanku.. Jangan malu ditertawakan hanya karena dicap baper. Tuangkan segalanya dalam lagu. Nyanyikan sampai puas. Hati riang gembira pun memenuhi relung asa. Bebaskan… Bebaskan… Bebaskan…