Aku membenci kemungkinan

Di kepalaku, selalu ada film pendek berisi kemungkinan-kemungkinan yang setia kuputar kala aku melintasi danau itu.

Salah satunya adalah duduk di teras rumah bersama dirimu, dengan bocah-bocah yang mirip denganmu atau bisa jadi denganku berlarian di sekitar kita.

Atau,

Menghabiskan malam di ruang makan, membahas apapun hingga gemintang menyerah pada subuh. Seperti Bapak dan Mama di tahun-tahun masa remajaku.

Kemungkinan lain adalah membagi segala keluh dan kesah yang selama ini hanya berani kusimpan sendiri, kepadamu. Menjadikanmu tempat untuk berbagi, entah apapun itu.

Namun,

Rintik dan percakapan kemarin sore — bersama mama, membuatku menyadari bahwa ada satu kemungkinan yang kubenci. Terselip di antara kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Kemungkinan yang berisi tentangmu, bersama orang yang bukan aku. Atau kemungkinan yang berisi tentangku, namun bukan kau yang menemaniku menghabiskan sisa hidup.

Aku tahu masalah siapa yang bersama siapa adalah salah satu dari sekian rahasia yang sengaja Allah simpan untuk kita. Yang tidak akan kita ketahui jika memang belum waktunya.

Tetapi jika kemungkinan itu yang menjadi salah satu dari rahasia yang Allah simpan untukku, aku memilih untuk tidak mengetahuinya. Sampai kapanpun.

Karena saat ini, aku hanya ini menikmati. Menikmati segala hal tentangmu, termasuk namamu yang setia mengisi obrolan telegramku.


Makassar, 10 oktober 2016
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.