Kepada para pemilik luka yang sama.

Aku tahu jenis luka apa yang sedang berada di dalam dada kalian. Aku tahu bagaimana rasanya ketika luka itu pertama kali ditorehkan. Rasa seperti ribuan belati menusuk secara bersamaan kan? Rasa sakitnya bukan kepalang.

Aku tahu apa yang hadir setelah luka itu. Kehilangan yang amat dalam, melebihi kehilangan seorang kekasih. Kekecewaan yang dalam, melebihi kekecewaan akibat terhianati oleh kekasih.

Aku tahu apa yang terjadi saat luka itu mencapai umur setahun. Luka itu belum kering, sebanyak apapun kalian memberikan betadine kepadanya. Kasa yang kalian gunakan untuk membalut luka itu masih saja merah oleh darah yang enggan berhenti.

Aku tahu apa yang terjadi saat luka itu mencapai umur dua tahun. Untung saja ia mulai mengering. Namun aku tahu, seiring dengan mengeringnya luka itu, memori tentangnya perlahan ikut memudar. Melebur bersama kepergian sang waktu yang enggan menoleh.

Aku tahu apa yang terjadi saat luka itu mencapai umur tiga tahun. Kalian telah selesai belajar untuk menerima kehadiran luka itu. Berteman dengan luka itu sembari sesekali mengusapkan airmata merelakan yang tentu saja akan hadir.

Aku tahu apa yang akan selalu terjadi akibat luka itu. Perasaan rindu yang amat dalam kepada sosok yang menorehkan luka itu tanpa sengaja. Perasaan rindu untuk kembali mengulang memori indah bersama sosok itu. Juga pengandaian yang menipu, manakala berharap sosok itu kembali hadir dalam hidup kita.


Kepada para pemilik luka yang sama.

Aku tahu luka itu akan selalu ada sampai kapanpun. Tapi seseorang pernah mengatakannya kepadaku. Bahwa cobalah melihat suatu hal dari kacamata yang berbeda.

Maka setelah kuganti kacamata minus empatku menjadi kacamata minus lima, aku menemukan banyak hal akibat luka itu. Luka itu tak selamanya mengajarkan kita tentang kehilangan. Namun juga tentang pendewasaan diri.

Apakah kalian pernah berpikir jika luka itu tak pernah hadir di dalam dada kita, kita akan menjadi orang yang sama seperti sekarang ini?

Seorang anak perempuan yang masih memiliki ibu tak sehebat anak perempuan yang kehilangan sosok itu. Seorang anak perempuan yang telah kehilangan ibu pasti lebih dulu mencuri start untuk belajar menjadi ibu dalam kehidupan ayah dan saudaranya.

Seorang anak lelaki yang masih memiliki ayah tak sehebat anak lelaki yang telah kehilangan sosok itu. Seorang anak lelaki akan tumbuh menjadi lebih bertanggung jawab dan melindungi ibu serta saudaranya.

Seorang anak perempuan yang masih memiliki ayah tak sekuat anak perempuan yang kehilangan sosok itu. Anak perempuan yang telah kehilangan sosok ayah dalam hidupnya akan belajar bagaimana menjadi tangguh dari orang-orang disekitarnya. Belajar untuk lebih mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Seorang anak lelaki yang masih memiliki ibu tak akan selembut anak lelaki yang kehilangan sosok itu. Anak lelaki yang kehilangan ibu akan belajar untuk lebih menghargai kaum dari ibunya.

Kepada para pemilik luka yang sama.

Kita perlu bersyukur atas apa yang takdir berikan kepada kita. Luka sekaligus alasan untuk lebih hebat dari orang lain.


Ditulis oleh gadis pemilik luka yang sama diantara denting jarum jam yang mendominasi.