2 Februari 2017

Pertama kalinya aku merasa akan segera mati.


Mom, kukira aku akan mati siang tadi. Ditengah tengah manusia yang sedang naik pitam, rekan kerjaku, bersama puing puing berangkal, bubuk kayu, diatas lantai bangunan yang tak kunjung selesai itu. Aku menunggu saat saat aku terjatuh pingsan di tengahnya. Segalanya sudah memuncak dikepala. Menyebar ke organ di perutku yang menyampaikan rasa mual ke otak. Kurasa ini bukan penyakit biasa. Aku sarapan soto pagi tadi, sehat bukan? Walaupun kusantap juga gorengan pisang bu nunik yang berminyak namun lezat itu. Tapi kali ini sakit kepalaku bertambah ketika aku harus mencari jawaban yang kuharus lontarkan pada manusia yang sedang naik pitam itu. Tapi Allah baik mom, dia memberiku tenaga untuk melewati hari tadi. Aku tetap kokoh berdiri dengan keadaan yang seperti itu. Menghadapi sang penguasa bangunan yang inginnya ku segera ambilkan air wudhu untuknya. Karena kami sudah lelah mendengarkan amarahnya. Aku bukan anjing yang bisa selalu mengangguk pada manusia yang memberiku makan. Aku percaya masih banyak manusia diluar sana yang masih memanusiakan manusia. Dan pintu rezeki tidak hanya darinya saja tentunya. Terlebih jika hanya manusia dengan nafsu setinggi pencakar langit ibukota.

Mom, aku butuh doamu untuk jawaban masa depanku.


Ditulis di detik detik menuju saat aku benar benar membulatkan tekad untuk resign. Kini Tuhan sudah menjawab masa depanku. Alhamdulillah.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated L Mega’s story.