Sekatapata
Pembalasan paling manis seperti apa yang pernah kau bayangkan akan menemanimu memikul canda.
Berharap luka sembuh pada jarak tempuhnya namun kembali menganga kala mata yang tak cukup asing kembali ‘tuk saling bersaing.
Disaksikan bara api tak jauh sedang asik membara dan berdansa di atas tumpukan abu, seakan lupa pada masa ia merupa sebongkah kayu.
Beruntung bagiku jika tetap memerhatikan caramu tertawa, melempar frasa jenaka, bebas bertingkah pola, meski seringnya tampak pongah.
Tak ada sepatah kata mampu mengelabui lidah dan memaksa berlalu lalang di antara bibir yang kering dan gigi-gigi yang miring.
Kata-kata pun sudah patah sebelum terangkai sayapnya untuk kemudian mengangkasa dan berjibaku dengan luar biasa.
Dan pembalasan yang kita sepakati akhirnya hanya sebuah kesunyian, saling membalas diam dan kembali pada kenyataan.
Je, fais rien.
