Luka Batin dan Trauma Masa Lalu

Madkimma
Madkimma
Sep 6, 2018 · 3 min read

hhhmmmm.. Menghela nafas panjang.

Saya kaget mendengarnya, saat teman menceritakan kisah hidup yang sudah dilaluinya seperti drama dalam dunia nyata

Dimulai dari masalah karir yang selalu gagal, masalah percintaan yang tak kunjung usai hingga masalah keluarga yang jauh dari keharmonisan. Setiap rangkaian kejadian tanpa disadari ternyata membekas di memori pikirannya sampai ia dewasa dan sialnya terlalu banyak hal negatif tersimpan menjadi racun pikiran sampai-sampai semua itu melemahkan dan mematikan langkahnya untuk melanjutkan hidup menggapai masa depan.

Sambil menikmati segelas kopi yang mulai mendingin saya terus mendengarkan keluh kesahnya, mencoba memahami apa yang sedang dihadapinya meskipun nyatanya saya tidak mampu memberikan solusi praktis ataupun nasihat-nasihat bijak layaknya motivator ulung dengan segudang kata-kata mutiara kehidupan, yang saya lakukan hanya duduk disampingnya, membersamai.

Ada satu benang merah yang saya temukan bahwa setiap orang ketika mencurahkan isi hati/pikirannya bisa jadi itu adalah luka batin yang sudah cukup lama ia pendam hingga ia sendiri tidak sadar akan adanya luka itu, luka yang sudah lama tersimpan dalam diri, luka yang tidak kasat mata, luka yang terpelihara sampai-sampai menetap menemani diri dengan waktu yang cukup lama. Disisi lain ada trauma masa lalu yang ikut berperan aktif memberikan pengaruh buruk terhadap pikiran. Bisa dibayangkan betapa itu sangat mengganggu!

Dalam urusan seperti ini saya bukan ahlinya, untuk meringankan mungkin bisa tapi untuk menyembuhkan atau sampai menghilangkannya itu bukan keahlian saya, dalam kasus ini peran saya sederhana yaitu hanya sebatas menemani sambil berusaha menjadi pendengar yang baik. Karena yang saya pahami perihal perasaan setiap orang akan merasa lega ketika ada yang mampu dan mau mendengarkan ocehan, keluhan, kekesalan, kekecewaan, bahkan kemarahannya.

Pemahaman saya sebatas itu dan semoga setiap orang memahaminya

Dari sudut pandang lain mungkin inilah cara Tuhan mendidik manusia.. Bentuk kasih sayangNya entah itu melalui peringatan atau ujian yang pasti akan selalu ada pembelajaran sekaligus hikmah pada setiap perjalanan hidup. Kita sudah sepakat meyakini hal ini dan kita sepakat Tuhan tidak pernah iseng dan tidak main dadu!

Balik lagi ke perihal luka batin dan trauma masa lalu dimana setiap orang pasti memilikinya hanya saja masih belum mampu untuk mengatasi bahkan tidak tau akan adanya hal ini. Maka saran saya setiap kita sedang menghadapi masalah jangan pernah dipendam sendiri, cari teman/sahabat/pasangan/keluarga yang bersedia diajak ngobrol. Ya, NGOBROL. Kegiatan sederhana namun efeknya sangat LUAR BIASA

Ngobrol untuk mencurahkan isi pikiran dan perasaan

Syukur-syukur orang yang kita ajak ngobrol adalah orang yang tepat dalam artian ia mampu memahami bukan sebatas hanya mendengarkan tapi juga ikut merasakan, pada intinya ngobrol sesering mungkin dan tidak harus langsung menceritakan semua masalah yang penting ada kesempatan untuk bicara apapun yang disukai supaya mulut tidak terlalu lama tertutup.

Ini cerita yang saya tuangkan ke dalam tulisan dan saya berharap setiap orang (siapapun) yang membacanya mampu menarik satu pelajaran bahwa ada banyak orang disekeliling kita yang butuh perhatian, khususnya perhatian secara psikologis dan hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah: “Dengarkan dia”.

    Madkimma

    Written by

    Madkimma

    Kata-Makna-Rasa

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade