05.05

It’s been a month. Since our last conversation. Our last chatting.

Ada yang hilang dari rutinitas harian Reyya. Gadis itu menghela nafas. Menjangkau gelas fushia berisi kopi yang baru saja diseduhnya. Beberapa dokumen tertata rapi di sebelah kiri meja nya, menanti tangan Reyya menariknya untuk dikerjakan. Namun alih-alih Reyya mengerjakan dokumen tersebut, gadis itu justru membuka laman gmail dari browser nya. Berulang kali menekan refresh di inbox account nya. Kemudian membuka tab baru mengetikkan sebuah link dan terhanyut membaca tulisan di sebuah blog, yang sudah berulang kali dibacanya.

Mata Reyya berair. Ada pedih yang menggantung di sana. Hatinya melesak, merasakan sakit. Reyya kecewa. Entah pada apa dan siapa. Dia merasa tak berdaya. Dia merasa di khianati oleh pikirannya sendiri. Dia merasa cemburu.

Berulang kali Reyya menyakinkan diri nya sendiri bahwa segalanya akan lebih baik. Namun berulang kali pula hatinya menolak dan berontak. Dia merasa semuanya telah membohonginya. Tawanya, gembiranya, tulisannya, semua telah membohongi dirinya. Tidak….semua tidak akan menjadi lebih baik!! Semua tidak akan kembali! Jerit hati Reyya, membuatnya semakin nelangsa dan bersedih.

Reyya menatap wajah nyengir yang terpampang di layar laptopnya. Tak ayal, bibir Reyya tertarik membentuk senyum, membalas cengiran dari wajah di foto tersebut. Aaahhh…..maafkan aku, isaknya.