19 Oktober 2017

Beberapa hari ini kantorku terasa sangat dingin. Suhu AC memang dibuat 19 derajat. Entahlah kenapa Office Assistance hobby menurunkan suhu. Bahkan sejak pagi tadi aku secara beruntun bersin-bersin. Teman-teman kantor mengejek ku untuk segera menggunakan masker, karena aku kemungkinan besar dapat menyebarkan virus influensa dari bersinku -padahal aku selalu menutup hidung dan mulutku saat bersin. Bahkan saking dinginnya, aku mampu menghabiskan secangkir kopi hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sehingga, belum juga jam 10 AM kopi hangatku sudah tandas. Membuatku tergoda untuk menyeduh 1 sachet kopi sebagai penghangat.

Tepat pukul 9 pagi. Dari bunyi pintu yang terjeblak terbuka disusul dengan derap suara sepatu, aku bisa menerka bahwa atasanku sedang menuju ke kubikelku.

“Rain, kamu sudah tau? kita akan ada audit?” tanyanya saat aku mengangkat kepalaku.

“Iya Bu. Tanggal 30 kan? Saya sedang crosscheck untuk clearance checklist karyawan outsource Bu” jawabku segera.

“Engga! Auditnya Senin besok!” jawabnya sambil tertawa. Dan aku hanya menatap wajah oriental nya.

“Jadi kamu perlu cek semua dokumen clearance checklist, pastikan PIC sudah tanda tangan. Karyawan yang resign sudah kamu buatkan surat referensinya kan?” lanjutnya sambil mengetukkan jemarinya ke ujung partisi kubikelku.

Kalau karyawan resign, sudah dipastikan sudah saya buatkan surat referensinya bu. Tapi untuk karyawan outsource ini yang saya khawatirkan dokumen clearance checklist nya. Seperti anak plasman yang kemarin habis kontrak saja, saya cek ke Pak Agus ga ada clearance checklist nya. Alasan pak Agus karena karyawan tidak pegang inventaris. Harusnya kan tetap ada dokumen clearance checklist nya, at least untuk handover pekerjaannya jelas” keluhku.

Manager cantikku hanya menganggukkan kepalanya. Aku tak yakin dia akan membantuku dalam hal ini. Benar saja, dia lantas melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Aku menghela nafas. “Jadi solusinya gimana Bu?” bisikku lirih, sangat lirih.


“Bu Rain mau makan apa?” Office assistance ku sudah berdiri di depan kubikelku. Tangannya memegang selembar kertas dan pulpen serta beberapa lembar uang. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10.10AM. Aku menuliskan pesananku di selembar kertas yang dia berikan, dan memberikan selembar uang kepada Office Assistance-ku.

Kemudian aku melanjutkan mengecek data karyawan outsource. Tepat jam 12 alarm airku berbunyi. Entah sudah berapa kali alarm air itu berbunyi. Nyatanya aku merasakan tenggorokanku kering. Aku tertawa tertahan, mengingat seseorang yang sering gusar melihat aku tak menggubris alarm airku. Dan hebatnya, dia tak pernah sekalipun bosan mengingatku akan hal itu. Akibatnya memang aku jadi lebih aware dengan air putihku -jika kondisinya memang aku sedang tidak dalam keadaan terlalu fokus pada kerjaan.

Denting suara sendok beradu dengan garpu dan piring membuatku memalingkan wajah ke arah pantry. Tiba-tiba aku merasa lapar. Ku langkahkan kakiku menuju meja pantry. Menyiapkan makan siang yang sudah dibelikan oleh Office Assistance ku. Siang ini, aku memutuskan untuk makan mie ayam bakso. Mengingat pagi tadi aku sudah sarapan nasi uduk. Jadi mie untuk makan siang, kurasa tak akan menjadi masalah.

Jakarta hari ini terguyur hujan sejak siang. Suhu ruangan yang sudah terasa dingin sejak pagi semakin terasa dingin. Ditambah sang office assistance menolak untuk menaikkan suhu beberapa derajat. Alasannya, big boss sedang meeting. Dan dia tak mau menanggung risiko di tegur sang Big Boss.

Untungnya mie ayamku masih panas mengepul, lumayan, terasa hangat di dalam perutku. Seperti biasa, makan siang kami penuh dengan canda. Saling ledek dan bully-an menjadi tambahan menu. Sejenak, aku melupakan beban yang menggantung di pundakku.


-kisah hari ini

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.