Angin

Aku melihat daun yang melayang tertiup angin. Bagai tak berarah, dia hanya mengikuti angin membawanya, memercayai angin bahwa dia akan sampai pada suatu tempat di suatu waktu. Angin yang sama menerpa wajahku. Namun ia tak mampu membawaku melayang. Hanya anak-anak rambutku yang tergerai bergerak mengikuti angin. Pun demikian, anak-anak rambutku tak mampu mengikuti gerak angin. Mereka terpaku di kepalaku, yang seolah tak goyah oleh terpaan angin.

Aku menengadah, berharap angin bertiup lebih kencang untuk mencumbuku. Membawaku untuk melepaskan gairah yang memuncak. Namun angin tak mampu membawaku mencapai kenikmatan yang kudamba. Perlahan, angin memudar, meninggalkanku. Membiarkan anak-anak rambutku kembali terkulai lemah di atas dahiku. Mencampakkanku.

Dadaku seperti diremas, nyeri. Menginginkan sesuatu yang ku tahu tak kan pernah kumiliki. Mendambakan sesuatu yang tak kan pernah ku dapat. Mengharapkan sesuatu yang tak seharusnya. Dan aku merasa sepi. Sendiri.

Aku tak paham diriku. Apa harapanku? Apa keinginanku? Masih mampukah hatiku menerima tikaman rindu yang tak jua hilang dari hatiku.

Ternyata….rindu itu menyakitkan….

Like what you read? Give R a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.