Broken Heart

Air mataku jatuh membaca deretan kalimat yang ditulis Arya melalui whatsapp chat. Pedih dadaku menahan rasa sakit. Entah apa yang sedang dirasakannya saat ini. Padahal seharian tadi kami masih berchatting ria seperti biasa. Namun entah apa pemicunya, aku tak tahu, saat tiba-tiba Arya melampiaskan isi hatinya membabi buta, dan aku hanya bisa terisak.


“Miss you, kecit” chat nya pagi itu, sesaat setelah aku mengirimkan fotoku dengan tumbler kopi pemberiannya di tangan. Dan seperti biasa, kamipun saling ledek yang membuat senyumku mengembang dan bahkan sedikit terbahak membaca barisan chatnya.

Arya, laki-laki yang kukenal 2 tahun lalu. Sosoknya biasa saja. Namun sejak aku mengenalnya, aku merasa dia adalah seorang laki-laki yang baik hati. Karena kebaikan hati nya pula lah kami bisa menjadi teman dekat. Dia seolah tau apa saja yang tak mampu ku kerjakan, sehingga dia dengan mudahnya menawarkan bantuannya. Kami pun menjadi sering bercerita satu sama lain. Aku merasa nyaman bercerita mengenai apapun dengannya. Bersamanya aku tak perlu menjaga tata krama, tak perlu bersopan santun. Bahkan kata-kata makian yang sering ku tahan, bisa dengannya mudahnya keluar dari mulutku saat aku bercerita dengannya. Dan dia, hanya tersenyum mendengar mulutku yang tak berhenti berbicara. Tanpa menghakimiku.

“Ah kamu spoiler!” Arya menjawab chatku, saat aku menanyakan film terbaru yang sedang tayang di bioskop. Aku tahu pasti, bahwa dia yang berada di pelosok tak akan punya kesempatan untuk sekedar melepas penat dengan menonton film di layar lebar. Tempat kerjanya di hutan belantara jelas tak memungkinkannya untuk sekedar bermalam mingguan ke kota, yang jaraknya bisa menghabiskan waktu beberapa jam perjalanan. Dan hal itu sering membuat ku usil untuk sedikit menceritakan jalan cerita film-film baru yang sudah kutonton. Seperti yang bisa kutebak, dia akan memberikan emot marah karena kesal padaku. Dan aku bisa tertawa terbahak membayangkan wajahnya yang luar biasa kesal dengan kelakuanku.

Obrolan kami di chat bisa meloncat-loncat. Dari pembahasan serius, menjadi obrolan yang tak penting. Namun aku sangat menikmatinya. Aku selalu menanti denting ponselku berbunyi. Berharap bahwa pesan yang masuk adalah darinya. Meskipun aku tahu, bahwa tak sepantasnya aku mengharapkannya.

Aku sangat tahu, Arya tak akan pernah ku miliki. Sampai kapanpun.


Ku baca ulang chat nya malam ini.

Cit, bagiku, kamu tetaplah pelangiku. Aku tak bisa mengganggapmu hanya sebagai teman.

Maafkan kalau keinginanku untuk selalu memelukmu membuatmu merasa tak nyaman.

Mungkin selamanya, aku tak akan pernah bisa menganggapmu hanya teman. Tidak setelah apa yang telah kita lalui.

Aku tak mampu membaca kelanjutan chat nya. Aku hanya duduk bersimpuh dan bersandar di tembok kamarku yang dingin.

Hatiku menjerit. Aahh… Arya, andai kamu tau apa yang kurasa. Air mataku menetes.

Kupilih delete chat, untuk mengakhiri obrolan kami malam ini. Kubiarkan air mataku mengalir. Karena hanya itu yang sedikit membuatku lega.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rain’s story.