Feeling

Aku selalu kesulitan untuk mengungkapkan perasaan. Sekedar mengucapkan “I Love You” bagiku merupakan hal yang sulit untuk diucapkan. Aku lebih memilih untuk mengucapkannya dalam kalimat perhatian yang bagi orang lain mungkin bukanlah ungkapan perasaan peduliku.

Seringkali aku memilih diam jika aku bertengkar. Atau jika aku merasa marah.

Mungkin karena hal itu, dulu Bapak pernah memberikanku sebuah buku besar. Beliau bilang “Ini, buat kamu menulis Rain, menulis apa saja yang kamu suka, apa saja yang kamu rasa, apa saja yang ingin kamu tulis”

Dan sejak saat itu, aku selalu memiliki sebuah buku, yang selalu kutaruh di bawah bantalku. Kadang buku tersebut sampai keriting karena basah oleh air mataku. O iyaaa…aku bisa sampai menangis saat menulis. Pernah suatu ketika, saat Ibu marah padaku dan aku merasa tak disayang Ibu, aku hanya diam di hadapan Ibu. Aku bahkan tak mencoba membela diri atas tuduhan yang Ibu katakan, karena adikku menangis di bawah penjagaanku, padahal tangisnya adalah akibat perbuatannya sendiri. Aku lantas pergi ke kamar, dan menuliskan semua kekecewaanku pada Ibu di buku. Air mataku berlinangan. Dan hanya buku itu yang menerima keluh kesahku. Bahkan buku itu yang menghapus air mataku.

Dan sore ini, rasanya dadaku sesak karena penuh. Rasanya aku ingin berteriak. Rasanya aku ingin menarik tangannya. Memintanya untuk tetap tinggal, tetap menemaniku, tetap menjadi bagian diriku. Tapi aku tak kuasa. Aku hanya bisa menahan isak, berharap dia tak mendengar isakku, meski sia sia. Begitu banyak yang ingin kusampaikan padanya, berbicara panjang padanya, berharap dia tau mengapa.

Aku menyayanginya. Meski tak pernah kuucapkan, kuharap dia tau.

Aku harus bagaimana jika rinduku padanya mendera?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.