Biskuit

“Nih, bawa ke kantor!” Aku terbengong menerima tas plastik yang dijejalkan ke tanganku oleh Bundaku.

“Apaan nih Bun?” tanyaku sambil melongok kantong plastik tersebut. Suara klontang terdengar dari plastik tersebut tak kala tak sengaja aku menyenggol tepian meja makan.

“Hah? Biskuit? Kok disuruh bawa ke kantor?”

“Kamu kan doyan ngemil, biar ga ngantuk di kantor. Bagi-bagi ke teman-teman, buat pendamping kopi” seru Ibun sambil sedikit mendorongku menuju pintu.

“Dah sana berangkat ntar kesiangan. Jangan lupa helm!” serunya saat aku pamit berangkat.

Ku jejalkan kantong plastik berisi kaleng biskuit ke dalam tas ranselku. Aku enggan menenteng-nenteng bungkusan dan segera meraih helm dari meja di teras di depan, seraya setengah berteriak mengucap salam dan keluar dari pagar rumah.


Pagi ini aku menyesap kopi di gelas fushiaku ditemani sekaleng biskuit Monde yang Ibun siapkan. Beberapa teman yang sudah hadir di kantor ikut bergabung di meja pantry, menyomot biskuit dari kaleng sebagai teman minum teh atau kopi mereka.

Tepat 09.40 AM aku beranjak ke mejaku. Menyiapkan laptop dan dokumen-dokumen yang harus kukerjakan. Beberapa teman datang dan pergi melewati meja pantry sambil sesekali terdengar pertanyaan “Biskuit siapa nih? nyomot ya?” Aku hanya tersenyum, senang bisa berbagi.

Aku masih berkutat dengan dokumen karyawan perusahaan yang dibeli oleh perusahaan tempat ku bekerja tahun lalu. Memastikan bahwa dokumen mereka sudah ada dan sesuai dengan legal yang berlaku. Jam digitalku menunjukkan pukul 11.35 AM saat smartphone ku berdering dan tulisan “Bundaku” tertera di layarnya.

“Ya Bun?”

“Enak ga biskuitnya?” tanya Ibun. Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan nya. Tak biasanya beliau bertanya tentang biskuit yang bukan kali pertama juga ku makan.

“Enak kok, kayaknya sudah habis tuh, di cemilin anak-anak” jawabku.

“Syukurlah” jawabnya di seberang sana.

“Memang kenapa Bun?” tanyaku lagi.

“Emmm…itu kalau ga salah kadaluarsa nya bulan Maret 2017 deh” jawabnya terkekeh.

“Haaaaah?”

“Ya sudah ya, kamu teruskan kerjanya, Ibun mo nyiapkan makan buat si cipluk” Dan sambungan telepon pun terputus.

Astaga, sepagian tadi kami memakan biskuit yang sudah kadaluarsa.

May 19th, 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.