Mendung

Lagi-lagi sepanjang siang hujan turun membasahi Kebon Jeruk dan sekitarnya. Padahal pagi tadi aku harus berkeringat menembus macetnya jalan Jakarta. Dan jelang sore ini, dadaku masih berdebar, pasalnya matahari masih enggan untuk bersinar. Aku khawatir hujan akan kembali turun saat waktunya aku pulang nanti.

Aku mencintai hujan. Kerap kali aku berlarian di bawah hujan. Membiarkan tetes-tetesnya jatuh dari ujung rambutku. Membiarkan air nya menitik dari bulu mataku. Tak peduli bahwa hujan akan membasahi bajuku. Tak peduli bahwa hujan akan membuatku demam kemudian. Aku terlanjur cinta pada hujan. Siang tadi saat hujan turun, aku hanya menatap dari jendela ruang kerjaku. Rindu rasanya ingin berlari menembus sang hujan. Namun belakangan aku menghindari hujan. Aku takut hujan. Entahlah, mungkin dinginnya terlalu menusuk kulitku.

Namun aku tetap mencintai hujan. Menatap hujan dari jendela. Aku tetap mencintainya. Mungkin benar, bahwa hujan selalu bisa membuatku teringat akan sesuatu.


Hey, kamu tau? Resepsionis kantorku? Yang baru? Yang menggantikan Resepsionis terdahulu -Favoritmu tuh. Ingat? Nah, dia akan menikah Sabtu besok. Bukan….bukan Favoritmu yang akan menikah, kamu tenang saja. Resepsionisku yang sekarang yang akan menikah. Jadi mulai hari ini dia cuti. Dia ini karyawan outsource di kantorku. Emmm….aku pernah cerita belum siy? Belum ya? Never mind. Karena Dia karyawan outsource, jadi HRM-ku -Favoritmu juga- meminta pihak outsource untuk memberikan kami resepsionis pengganti. Macam stuntman ya? Pagi tadi, sekitar jam 10 lewat si stuntman ini datang. Aku sedikit memberikan briefing ke dia. O iya, namanya Sebut saja Ningsih -ga cantik, rasanya bukan type kamu deh.

Jadi, sepanjang hari ini, aku disibukkan oleh krang kring telpon dari si stuntman, sekedar bertanya nomor extention tujuan kalau ada incoming call dari suatu institusi. Kamu tau kan betapa sabarnya aku? Jadi hari ini, rasanya tensiku sudah mulai naik. Aahh….sungguh, aku lebih baik secara temporary dipindah duduk ke meja resepsionis untuk menggantikan si Resepsionis, dari pada seperti ini. Kadang aku bingung sendiri apa yang dimaksud sama si stuntman. Saat ku tanya maksudnya dia pun tak kalah bingungnya dengan ku. Coba kamu bayangkan hal ini. Aaahhh…sudahlah…! Tak perlu! Kamu pasti akan tertawa mengejek.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.