02.05 AM

02.05 AM, aku terbangun dari tidurku. Dan kehilangan rasa kantuk. Ku teguk air minum dari nakas di sisi kanan tempat tidurku, kemudian ku rebahkan kembali tubuhku. Mencoba untuk kembali terlelap. Ku pejamkan mataku, meskipun kantukku sudah menguap entah kemana. Terbayang mimpiku. Betapa nyata, seolah itulah kenyataannya.

Melihatnya, tubuh kurus tingginya. Dengan sepasang mata yang menggerling menggoda. Dengan senyum nakalnya. Sepasang tangan kokohnya di kedua sisi tubuhnya. Membuatku tak mampu untuk tak berlari dan memeluknya. Kulingkari kedua tanganku di pinggangnya. Berharap dengan cara itu ia tak akan lagi pergi dariku. Tubuhnya kaku menerima pelukanku. Kedua tangannya tak bergeming. Dia tak membalas pelukanku! Perlahan ku angkat kepalaku, merenggangkan pelukanku. Kutatap dagunya yang bersih tercukur. Dia tak menatap ku. Matanya tetap menatap ke depan, senyumnya yang tersungging tak ditujukan kepadaku. Perlahan ku lepaskan pelukanku. Mataku tetap tertuju ke wajahnya. Kemudian perlahan, ku tengok ke belakang, ikut melihat arah tatapannya.

Kakiku terasa tak berpijak. Tubuhku serasa melayang. Dia, tak jua melihatku. Lirih aku berkata, “Schatz…. Das bin Ich! Dein Schatz” Ku pegang jemari nya, berharap dia bisa merasakan keberadaanku. Namun semua sia-sia. Mata jenakanya tak bergeming dari tatapannya. Sebentuk air mengalir dari mata kiriku. Perlahan kulepaskan peganganku. Ikut melihat arah pandangannya. Menatap seorang wanita yang sedang tersenyum menatapnya. Matanya bercahaya, seolah ratusan bintang berkelip di dalamnya.

Perlahan dia melangkahkan kakinya menuju wanita tersebut. Aku terkesiap, hatiku serasa tertusuk ribuan jarum, saat dia mempercepat langkahnya dan kemudian memeluk wanita itu. Aku bagai terjatuh ke dalam jurang yang dalam tak bertepi. Kemudian aku terjaga, saat itu pukul 02.05 AM.