Rainy Day

Hari Minggu kemarin, rencanaku untuk pergi nonton buyar. Bukan karena, si kecilku tidak mengizinkan, tetapi karena tiba-tiba saja di hari Sabtu, saat aku mengantar si kecil untuk mencoba sebuah kelas bermain, aku mendapat info untuk mengunjungi satu tempat di hari Minggu. Di hari Sabtu pun jadwal sudah demikian padatnya, sampai-sampai si kecilku tertidur saat tiba di rumah sekitar pukul 08.00 malam.

Minggu pagi, aku pergi mendatangi tempat yang diminta, menjelang sore kami baru kembali tiba di rumah. Si kecilku memang memastikan dirinya tak perlu ikut, meski sudah kubujuk sejak pagi, tapi dia tetap pada pendiriannya. Dia hanya ingin bermain pasir kinetik di rumah.

Tepat saat kami masuk ke dalam rumah, hujan turun dengan lebatnya. Aku bergegas sholat Ashar kemudian menyiapkan makan seadanya. Lalu aku merebahkan diri di depan televisi. Entah berapa lama aku terlelap. Saat sebuah tangan mengelus dahiku, membangunkanku untuk menunaikan sholat Magrib.

Kemarin malam hujan menemani tidurku. Aku merapatkan selimut tebalku sampai ke dada. Memejamkan mata, sambil sesekali mengingat saat bermain di Tawakal.


Senin ini Jakarta, lagi-lagi diguyur hujan. Sejak pukul 10.00 langit terlihat menghitam. Tak lama hujan yang disertai angin kencang melanda. Sampai pukul 12 lebih hujan tak kunjung berhenti. Aku mengerjap kaget, saat rekan kerjaku mengajakku makan siang. Melongok sebentar, melalui jendela besar di ruangan, memastikan hujan sudah mereda. Aku memutuskan untuk nongkrong di warung di area parkir gedung kantorku.

Hujan yang sudah mereda, membuat aku dan rekan kerjaku nekat untuk berjalan tanpa membawa payung. Tetes-tetes hujan terlihat sedikit, kami pun melangkahkan kaki menembus gerimis. Makin lama, gerimis makin melebat menjadi rinai hujan. Aku tertawa-tawa di bawah derai hujan, sambil berlari kecil. Rekan kerjaku yang berada di sampingku ikut tertawa, sekilas ku lihat tanggannya hendak menutupi kepalaku saat dia berkata “Lu basah kali Bu!!” tapi aku sudah berlari menuju warung indomie yang ada di depan mata. Aku tak peduli air hujan membasahi kepalaku. Aku senang berada di bawah hujan. Rasanya ingin berlama-lama di bawah hujan. Meskipun dinginnya menusuk kulitku.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.