Bla-bla-bla yang membelalak.

Orang-orang mungkin menebak aku ialah orang yang sulit ditebak, gampang, atau-yang paling terakhir aneh juga gila. Namun, semua prasangka itu benar, dan aku mengakuinya. Aku bukanlah pribadi yang hebat dan bisa diandalkan sebagaimana yang orang harap. Hidup yang aku jalani tak tahu apa namanya, entahlah. Tekanan-tekanan, bayang-bayang masa depan. Datang hampir setiap harinya menghujamku. Kini keluar dari dari kedua hal itu sebagai cita-cita yang sangat aku idamkan, dan juga mungkin orang lain. Aku mengklaim kalau diriku — pribadi yang belum merdeka, masih harus tetap berusaha untuk keluar dari belenggu yang membuat diriku membusuk. Walaupun jika harus merangkak seperti bayi, yang penting merdeka. Menangis adalah hal yang memuakkan, yang sebenarnya itu relasi antar realitas dan angan-angan. Menangis, itu perbuatan kaum durhaka romansa maskulin. Berparas sangar namun gemar menangis.

Begitulah hidup yang aku kenali, ketika seseorang memegang teguh apa yang diyakininya tapi belum dapat dipastikan keakuratan kebenarannya. Aku selalu berjalan diatas ketidakpastian juga kenihilan. Ya — begitulah nyatanya aku tak mempunyai fondasi kuat, untuk bertahan dari terjangan kehidupan yang biasanya memporak-porandakan jiwa seseorang, dan — mungkin juga — aku!. Ketika diluar sana orang-orang sibuk menyiapkan amunisinya buat masa depan. Aku disini terbengkala, menyendiri, berbaring menatapi langit bisu. Cerita-cerita senja ku lontarkan ke langit namun jawaban tak kunjung datang bahkan menyapa-pun enggan. Bisu.

Aku bersyukur tidak berlomba-berlomba seperti mereka yang sedang tergesa-gesa menata hidupnya untuk omong kosong. Terbengkala, tapi bukanlah pribadi buta, tamak, serakah, dan rakus. Langit kini dihiasai kepulan asap kemunafikan yang menutupi nurani manusia sekarang. Tertutupi oleh bayang-bayang masa depan. Manusia kalang kabut mengurusi akhirat, yang berakhir dengan amnesia. Beginilah kehidupan yang orang-orang jalani hingga akhir hayatnya, mungkin. Impian yang diimpikan seperti; perdamaian. Perdamaian ialah suatu ilusi juga imajinasi yang diciptakan oleh tekanan besar yang menghantui. Barangkali, ini juga merupakan penyakit skizofrenia. Tapi jikalau faktanya demikian, maka miliaran manusia mengidap penyakit serupa. Pendidikan menurutku, (khususnya) di indonesia negeriku sendiri. Adalah sebuah ajang pertarungan gengsi atau-barangkali, sebuah tradisi turun temurun yang selalu diajarkan orang tua. Sejak usia dini orang telah, diajarkan diberitahu bahwa anaknya harus menuntut ilmu. Dan begitupun sebaliknya. Ketika sang anak dewasa dan mempunyai anak. Anak itu akan dapat perlakuan yang sama oleh ayahnya ketika seusia dengannya.

Aku, tak ingin menyebut bahwa pendidikan sesuatu yang menakutkan serta tanpa belas kasih. Pendidikan selalu menerjang, menyayat pemikiran-pemikiran baru yang bebas. Pendidikan tak punya mata namun dapat menyayat miliaran pemikiran juga jiwa-jiwa yang naif. Pendidikan sosok yang begitu diagungkan bagi mereka yang suka bersaing, saling membunuh, menindas, diatas panggung sandiwara. Bumi kian kelam ditelan pendidikan. Lalu pendidikan melahirkan sebuah ego besar, yaitu kesuksesan. Kesuksesan tak-selamanya berjalan melewati jalur yang kadang terjal itu, namun ia mempunyai teman, yang diberi nama; Tamak, rakus, dan serakah. Ketiganya saling bergandengan-tangan saling-merangkul dengan eratnya, lalu dengan proses sistematis-nan-panjang itu, terbentuklah sosok yang baru, penindasan.

Penantian panjang dari pendidikan hingga penindasan yang tak henti-hentinya tiada kenal lelah terjadi dimana-mana, bahkan memasuki tempat-tempat pelosok yang kumuh, bau, dan tak layak untuk huni. Ironi. Pendidikan begitulah nama akrab yang disapa hampir-seluruh manusia indonesia. Nama sekaligus sapaan yang dipandang kaum intelek, kanan, ataupun kiri. Status sosial ditiadakan hanya untuk menyebutnya. Hati-hatilah saudara-saudariku ada pribadi yang gelap menanti dibalik kemuliaan itu. Percaya atau tidak, benci atau tidak, itu hanya persoalan personal bagi setiap insan. Tulisanku ini tak dapat dipercaya kebenaran dan keabsahan akan hal-hal yang terurai diatas walau dalam cara abstrak, namun tentu saja tiap orang (manusia) membutuhkan setiap kesendirian untuk mencerap memahami artinya secara mendalam. Aku tahu mungkin ada yang menilai ini ngawur, dan dak tentu, dan lain-lain. Tapi aku masa bodo’ bukan berarti saya seorang yang anti-kritik. Masa bodo’.

Bla..bla..blaa…..

Jauh direlung hati jeritan akan hati yang gundah gulana sibuk menyibukkan jeritannya. Aku terperangkap karenanya. Bersandar didinding ruang kehampaan, lalu mencoba berpikir cara mengatasi jeritan itu. Sembari berpikir doa-pun tak lepas ku lontarkan pada-Nya namun aku tak tahu apa akan mendapat respon atau tidak. Berjalan menyusuri sukma–namun ku dapatkan hanyalah kekosongan jua tak berarti. Apa-lah arti hidup bila tak mempunyai permukaan? Hanya segenap lara yang mengisinya silih berganti hingga permukaan tak nampak hakikatnya.

Bebas, bebas, bebas… Itulah kata yang acapkali melayang di samudera jiwaku. Bebas, bebas, bebas, dengan liarnya menari di samudera yang kumiliki — ia mengepakkan sayapnya hingga memasuki inti dari keluguan yang kumiliki; keraguan. Bebas dan lepas diri dari rantai pendidikan, rantai masa depan, rantai dogma-dogma baik agama dan ideologi, juga rantai keraguan yang menyebabkan bibir terjahit sendirinya hingga mengatakan hal yang sebenarnya adalah mustahil. Apa-lah arti semua ini jika bebas, bebas, bebas, hanya suatu cita-cita semu dan fana perangsang ruang-ruang imaji kita semata.

Ruang-ruang imaji yang tak diliputi perasaan merdeka (bebas, bebas, bebas) niscaya akan tetap seperti bayi yang secara otodidak merangkak ingin meraih serta merasakan kenikmatan air susu ibu — akan tetapi, bahkan, bisa lebih parah dari itu, yakni merangkak-pun menjadi masalah serius.

Bersambung…

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.