Choose a Life? or…

Mulanya, saya sangat jarang mengindahkan sesuatu atau gambar seperti ini. Foto yang telah dirobah keasliannya ini, mampu — setidaknya membuatku ingin mengindahkan tentangnya, dengan cara menuliskan sedikit catatan.

Dengan berulang kali saya menatapnya lalu memperhatikan dengan teliti, tiba-tiba saja terlintas dibenakku untuk memilih judul yang tepat untuk mewakilinya. Setelah memerhatikan dengan cukup jeli. Kemudian saya coba mengingat adegan pada gambar itu dan kalimat pembuka di Trainspotting. Yang dimana — segalanya tentang pilihan.

Seseorang bisa saja, mengimajinasikan kelak jadi apa dirinya setelah mengucapkan kata-kata soal pilihan yang keluar dari mulut liarnya. Akan tetapi, Ewan McGregor menampilkan sesuatu yang kadangkala sulit untuk diprediksi; Seperti dimana ketika ia sedang merasakan hal terpuruk juga terburuk dalam hidupnya — selama menjadi seorang Junkie.

Menjauhkan narkoba dari hidup merupakan hal yang tersulit bagi seorang junkie — bahkan utopis. Hal ini pula, mengingatkan kita akan hidup tanpa alat transaksi tunai atau uang.

Karena saya tak akan menulisnya secara detail juga panjang lebar, karenanya, bagi yang pernah menonton Trainspotting, setidaknya mengerti apa yang saya maksudkan mengenai catatan dibawah ini.

*

“Who wants to choose a life with this stuff? what a…… ah!“

Bagaimana kalau setiap orang memiliih hidupnya dengan some stuff seperti gambar diatas, apa jadinya bila setiap orang tua sangat meresahkan sikap dan kelakuan anak-anaknya kelak yang memilih mengabdikan dirinya pada some stuff itu? Apa kau akan risih dan merasa kegatelan jika orang-orang disekelilingmu mempunyai cita rasa berbeda dengan orang normal pada umumnya?

Apakah kau hanya mengkhawatirkan dampaknya, atau hanya peduli pada seorang itu? Dunia ini terlalu sayang bila dilewatkan oleh segenap–umpamanya, dosa-dosa atas moralitas yang selalu menuntunmu pada sikap baik dan buruk, bukan begitu? menurut Kurt Cobain di dunia fana ini tidak seorangpun yang ketika matinya akan tetap perawan sama seperti ketika kau coba menghirup oksigen pertama kalinya.

Sebegitu naifkah mereka para hipokrite yang selalu melakukan penyangkalan mutlak pada dirinya sendiri. Siapa hipokrite? Sudahlah, jangan merasa sok suci, kalau memang tidaklah sesuci keperawanan maria, (barangkali saja tak sesuci seperti kebanyakan orang bilang). Bukankah pilihan adalah kemutlakan diri yang tak dapat diganggu gugat oleh orang selain diri sendiri.

So… Choose a Life or choose a Lie?

Lalu mengapa kau selalu menimbang dengan hal-hal some stuff tersebut. Takut dengan dosa yang diperbuatmu? Takut saja telah membuatmu menjadi hipokrite sejati, penyangkalan-penyangkalan yang coba kau lontarkan tak berguna lagi.

hmm..

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.