Rakus

Sulit untuk menyadari bahwa setiap naluri alamiah kita (walau) hanya untuk sekadar menyangkutkan kata ‘rakus’ ke pribadi. Berbagai pertentangan yang mencuat ke permukaan — -berontak — berangus semuanya tentang rakus itu. Sifat menyombongkan diri tak luput dari setiap jiwa yang coba menghapus kata atau kalimat itu. Kemunafikan seketika muncul akibat dari pertentangan besar-besaran (sebenarnya kecil tapi terlihat kompleks jadinya besar), melakukan segala cara, sekali lagi ‘hanya’ untuk; meniadakan rakus, memberangusnya. Layaknya sebuah kerajaan berdiri megah di antara bebatuan yang disusun sedemikian rapinya, dapat runtuh dengan sekali sapuan. Pengakuan — kejujuran. Sapuan yang sangat amat di takuti oleh kemunafikan itu. Apa yang dapat diperbuatnya ketika sapuan datang secara tiba-tiba, bahkan ramalanpun tak dapat berbuat apa-apa. Kata rakus yang melahirkan absurditas, lalu beranak-pinak menjadi hipokrite tentu saja mempunyai keturunan yang tidak kalah hebatnya. Mengapa? jawabnya adalah sapuan itu selalu datang terlambat, belakangan — bagai penyesalan, selalu terlambat.

Pengakuan ialah Raja diatas raja, Maharaja. Jiwa-jiwa labil sangat digemari oleh rakus. Umur dan pengalaman bukan suatu tolak ukur melainkan titik temu yang mampu memilah apa yang dimaksud jiwa labil itu. Kelabilan jiwa seseorang memang tak dapat diukur bila diteropong secara kasat mata, yakni melalui umur. Mau itu muda ataupun tua, kelabilan jiwa dapat merangkul semua usia yang masih bergeming diatas ombak keraguan. Begitu seseorang merasa terkoyak keraguan yang melanda bagai musim kemarau nan panjang — menentukan arah bahwa apakah sebenarnya kita rakus atau tidak. Jangan menjadikan tuntutan ekonomi sebagai landasan berbagai macam alasan atas kerakusan. Meskipun, semua orang mempunyai batas-batas tertentu secara hakiki. Tetapi, menjadikan tuntutan ekonomi sebagai rujukan merupakan hal yang sangat absurd dan tentunya blasphemy.

Bayang-bayang rakus-ego menyelimuti setiap kalbu dan juga indera perangsang seperti mata, hati, telinga. Kinerjanya tak perlu diragukan lagi bahwa siapa saja yang rakus — -sudah dapat dipastikan indera perangsangnya mati suri bahkan mati untuk selamanya. Mengendapnya kerakusan membuat manusia bersetubuh dengan kebutaan yang beranak-pinak. Seraya menggumamkan bahwa dirinya tidak pernah sama sekali merasa kerakusan sedang menari dengan kepribadiannya yang buta. Sungguh menyedihkan bila saya, ataupun kamu tidak pernah merasa demikian, permainan ego mengenyahkan indera. Dialog antar diri lenyap dengan sendirinya diterpa hempasan badai ego yang bersetubuh — telah membuat manusia mengidap amnesia tak berkesudahan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.