
Di garis semu yang dulu kuputuskan,
Puan datang, dengan api menyala, menari puan di atasnya
Melambaiku, meminta berdiri bersama,
Tanpa ragu, aku datang bersemayang di sana.
Namun, puan tinggalkan aku sendirian,
Terbakar dan dihinakan pada arang hitam,
Puan pun pernah bilang,
“Ketika tajamnya kata terlandai, hanya pedih yang mampu jadi biangnya"
Lantas, kenapa puan behambar ria,
Menari-nari tanpa arahan pasti, menggila diatas tanda tanyaku.
Puan, tak ayalkah aku ini harus tunduk?
Jika kupatahkan kedua kakimu?
Kucongkel lidah penutur kata manismu?
Kini kucoba memadamkan api itu sendirian,
Kupanjatkan kata-kata serapah, meminta diri ini memaafkanku.
Puan, andaikan ruang semenung bisa kutekuk,
Sudah kulakukan didepan matamu,
Supaya engkau mati dimakan nestapa,
Supaya engkau terbujur kaku diatas liang lahat puan sendiri.
