Moh Rifaldi
Sep 5, 2018 · 2 min read

Bagi yang baca? Bantu saya beri judul puisi ini ya

Setelah petang tadi pergi

Di tepi pantai

aku bayangkan dari kejauhan orang-orang persis seperti gelombang

Ia ingin menghantam inti jantung ku.

Dan kau cinta, persis seperti petang tadi, tak pernah bisa tinggal lalu menetap.

Sebelum aku kau kubur, aku belum mau kabur.

Aku percaya bahwa semua orang menyukai Langit, karena langit tak pernah akan meninggalkan.

Dan kau cinta, apakah kau sama seperti langit? Juga disukai oleh banyak orang. Aku salah satunya.

Malam datang

diatas kepala, aku melihat bintang-bintang.

Seorang teman berusaha menghibur

walaupun aku tahu

di atas kepala nya juga terlihat banyak bintang-bintang sama seperti ku.

Kamis mungkin ingin jadi hari paling manis bagi sebagian orang, Tapi malam nya bisa jadi malam paling menakutkan.

Dingin

Malam ini memang sangat dingin. Hawa nya membelai mesra tubuh ku.

Jangan pernah buat tubuhmu mematung, jika satu saat aku harus kau kubur, biarlah seluruh tubuh ku menjadi santapan belatung.

Lalu, simpan aku di keningmu saja. Jangan pernah ingat aku sebagai gaunmu atau sepatu kesayangan mu.

Malam ini

tak kubiarkan mata Lampu padam sampai esok raja siang datang.

Aku rasakan orang-orang yang terkadang seperti gelombang itu

ia juga bisa berubah menjadi malaikat, malaikat yang satu waktu akan datang mencabut kau dari tubuh ku.

Ambesia 5 September 2018

    Moh Rifaldi

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade