8 Alasan Mengapa Berteman dengan Anak-anak itu Lebih Menyenangkan

Mungkin beberapa di antara kita bingung, kok bisa berteman dengan anak-anak. Mereka kan belum bisa diajak berdiskusi tentang filosofi kehidupan? Hahaha… sok banget!!

Sebenarnya pembahasan kami selama ini mungkin terlihat remeh-temeh, tapi ternya sangat membantu saya ketika menjalani kehidupan sehari-hari. Kok bisa? Nah begini ceritanya.

Sudah sejak beberapa bulan belakangan ini saya menemukan diri saya telah berubah ketika berada di antara anak-anak. Iya begitu, kehidupan saya sehari-hari tidak jauh dari anak-anak, baik itu anak-anak yang tinggal di pulau maupun di gunung.

Senangnya melihat mereka tertawa gembira! :)

Saya menemukan banyak karakter yang unik-unik dan selalu menyenangkan untuk didalami. Tapi ada juga kok yang bikin sakit kepala, tapi tidak apa-apa. Saya tetap berteman dengan mereka.

Berikut beberapa alasan saya untuk tetap berteman dengan anak-anak:

1. Menilai dengan jujur

Ketika kita menanyakan pendapat mereka tentang suatu hal, mereka bisa memberikan penilaian yang jujur dan tidak bertele-tele. Penilaian yang begitu polos sampai-sampai terkejut dibuatnya. Belakangan ini saya lebih sering meminta pendapat kepada anak-anak, dan kebanyakan saya tidak menyesal.

2. Empati

Kalau kita sedang bersedih mereka ikut bersedih, dan juga suka melakukan hal yang tidak terduga untuk menghibur.

3. Kalau marah tidak lama-lama

Kalau melihat mereka berkelahi atau bertengkar hebat, kita akan dikejutkan oleh mereka yang tidak lama berselang sudah main bersama. Berbeda dengan orang dewasa kan?

4. Lupa kesalahan orang lain

Mereka tidak menyimpan dendam, apalagi mengingat-ingat kesalahan teman mereka.

5. Tanpa drama

Kehidupan anak-anak ini tidak penuh dengan drama dan intrik, melainkan sangat sederhana dan polos. Walaupun mereka juga suka meniru adegan-adegan sinetron. :D

6. Tidak tau artinya bersedih

Jadi kalau berteman dengan anak-anak, kita akan belajar untuk melupakan kesedihan kita yang seringnya kita bumbui sendiri. Anak-anak bahkan tidak tahu artinya sedih. Mereka pernah menangis karena beberapa hal, tapi mereka tidak mengingatnya.

7. Selalu senang

Menurut pemikiran saya, anak-anak adalah mahluk yang dalam keadaan apapun tetap bisa gembira dan tertawa. Kalau tidak ada jajan, ya masih bisa main sama teman-teman. Mereka penuh dengan kesenangan, yang terkadang menurut kita biasa saja. Tapi coba ada di dekat mereka, senangnya menular.

8. Suka mentraktir

Oke, kalau yang ini memang tidak terjadi dengan semua anak. Tapi, belakangan ini anak-anak suka mentraktir saya dengan jajanan seharga 1000 rupiah. Mereka membeli es kiko untuk saya, dan ketika saya mau bayar, mereka malah menolak. Hahahah… kadang saya suka bingung gitu, tapi ya makan juga.

Alasan yang saya sebutkan di atas saya dapatkan melalui pengalaman pribadi. Akan tetapi, bisa berlaku untuk banyak orang juga. Anak-anak di semua penjuru dunia itu menurut saya sama saja. Mereka tetap anak-anak yang polos, lincah, dan gembira.

Hanya saja banyak orang dewasa di sekitar mereka yang tidak mendukung bahkan cenderung berusaha mematikan kegembiraan di dalam diri mereka. Anak-anak bisa bergembira dan tetap senang meskipun mereka lapar, tidak punya jajan, maupun sakit. Semangat mereka tidak padam!

Saya selalu percaya kalau setiap anak itu memiliki malaikat masing-masing, atau mereka lah malaikat itu sendiri?

Dengan berbagai alasan, orang dewasa suka lupa kalau banyak perkataan mereka itu meyakiti perasaan. Mengatai anak dengan perkataan negatif seperti bodoh. Miskin. Tidak bisa apa-apa. Sangat nakal.

Bisa dibayangkan tidak ketika anak-anak hanya mendengar omelan itu setiap hari, maka itu lah yang akan tertanam di dalam alam pikir mereka. Akibatnya, mereka jadi kehilangan motivasi dan semangat. Mereka akan rendah diri.

Saya masih ingat dulu ketika guru di sekolah lebih senang memakai penggaris kayu panjang maupun penghapus penuh kapur untuk mengingatkan saya akan kesalahan saya, tapi sekarang saya sadar betul bahwa saya tidak perlu melakukan hal yang sama kepada anak-anak.

Saya selalu percaya bahwa ketika kita bisa memperlakukan anak-anak itu setara dengan kita, kita akan menemukan suasana yang lebih sehat dan menyenangkan untuk mereka.

Mereka tidak akan lupa diri kok, ya kalau memang suka lupa diri ya bisa diingatkan baik-baik toh. Tidak usah berteriak! Toh kita orang dewasa juga suka lupa diri kan?

Kita juga sering menganggap anak-anak itu sebagai objek. Mereka harus dididik. Diberi hidup yang layak. Diajari. Dinafkahi. Yang kadang kita suka lupa kalau mereka juga individu yang bisa kita mintai pendapat atau memilih kesukaannya sendiri.

Mulai sekarang mari kita mulai untuk melihat anak-anak itu sebagai individu, sebagai pribadi yang juga bisa menliai, memberikan pendapat, memilih, dan bermain.

Kalau sudah begini, kita tidak akan lagi memakai anak-anak untuk mencari keuntungan diri sendiri atau memuaskan ego orang dewasa yang seringnya tidak masuk akal.

Yuk berteman dengan anak-anak!

Labuan Bajo, 21.8.2016

M

#children #friendly #happy #joy #person

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Monika Harahap’s story.