“Buleee… Buleee..”

Istirahat sejenak setelah bermain voli dengan anak-anak SD Inpres Maki, Lambaleda, Manggarai Timur.

Begitulah mereka memanggil dan menandai saya ketika pertama kali tiba di Dampek, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Saya kaget sekali ketika anak-anak memanggil saya bule. Sudah jelas-jelas saya bukan bule, menyerupai bule pun tidak. Saya bingung dari mana mereka sepakat menandai saya sebagai bule. ;D

Tentunya sebagai bukan bule saya memiliki kewajiban dan beban moral untuk menjelaskan kepada khalayak kalau saya bukan bule. Setitik pun tidak ada keturunan bule di dalam darah saya. Ngaku-ngaku bule pun tidak!! Hahah…

Setelah dua hari berinteraksi dengan anak-anak, guru, dan orang tua di SD Inpres Maki, akhirnya mereka percaya kalau saya bukan bule. Waktu itu saya menarik napas dengan lega. Hahaha….

Teman-teman dari SD Inpres Maki

Yang menjadi perhatian saya adalah orang-orang, khususnya anak-anak yang saya temui di sepanjang perjalanan di Desa Dampek ini, bahkan sampai ke Kecamatan Reo.

Tidak jarang anak-anak yang saya temui ketika saya berjalan kaki memanggil saya dengan bule atau kaka bule. Saya tidak membiarkan hal itu terjadi terus — menerus.

Ada saatnya saya menghampiri mereka dan menjelaskan bahwa saya bukan bule. Hahah…

“Oh… jadi kaka bukan bule.” Begitu si A menjawab penjelasan saya.

Akan tetapi, keesokan harinya teman si A yang saya sudah jelaskan perihal bukan bule tersebut tetap saja memanggil saya dengan sebutan kaka bule. Saya hanya bisa tarik napas agak panjang.

Saya pun memperkenalkan diri saya kepada mereka. “Panggil kaka Monik saja eee…”

Mereka membalas saya dengan senyuman manis saja.

Tidak hanya di Dampek, bahkan ketika saya pergi ke Reo, sekitar satu jam perjalanan dari Dampek, banyak mata yang memandang saya dengan keheranan. Ahh.. saya juga bingung menjelaskannya.

“Halo Mister.. How are you?” sapa salah satu supir angkutan.

Seperti biasa saya pun memberitahu kalau saya bukan bule. Nampaknya dia bisa menerima kenyataan itu dengan baik.

Akan tetapi, rekan supir angkutan yang sedang berjejer di depan tidak peduli dengan informasi yang sudah saya sampaikan. “Halo Mister.. How are you?” Begitu mereka menyapa saya secara bergantian.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengiyakan saja. Kalau saya harus menjelaskan berulang-ulang kalau saya bukan bule, saya kehabisan tenaga juga.

Apalagi bukan satu atau dua orang yang nampaknya perlu jawaban dari saya. Hahah… saya pun jawab mereka “I am fine. Thank you!” Lidah saya hampir keriting juga. :D

Sampai saat ini saya masih belum bisa percaya bahwa ada orang yang melihat saya sebagai atau seperti bule. Apalagi anak-anak yang hampir setiap hari saya lewat dari depan rumahnya dan berbagi senyum dan sapa pun masih menganggap saya kaka bule.

Mandi di sungai dengan ‘kaka Bule’.

Sudah hampir tiga minggu saya di desa ini. Saya melihat masih ada saja yang memanggil saya sebagai kaka bule atau bule.

Seperti siang kemarin ketika saya sudah mengobrol dan membagikan permen kepada beberapa anak kecil yang berada di dekat rumah, saya masih sempat mendengar Olive berbicara kepada ayahnya:

“Bapak, ada kaka bule….”

Saya hanya bisa menepok dahi saya dan menarik napas lebih panjang.

Dampek, 23.2.2017

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Monika Harahap’s story.