Cerita Perdamaian Antar Agama dari Pulau Alor

Monika Harahap
May 25, 2018 · 4 min read

Sejak pertama kali mendarat di Bandara Mali, Pulau Alor saya sudah merasakan sesuatu yang unik dari pulau yang berdekatan dengan Pulau Timor ini.

Memang benar deh, saya berjumpa dengan orang-orang yang ramah dan murah senyum. Walaupun mungkin kelihatan agak menakutkan dari tampilan luarnya, sekali senyum eeee… seperti menemukan mata air di tengah padang gurun.

Jadi, setelah sehari berada di Alor saya mendengarkan cerita dari kenalan dan penduduk di sini kalau di sebuah desa, tepatnya di Alila Timur masyarakat yang berbeda agama sudah saling membantu sejak dulu. Bentuk kerja sama dan saling membantu antara masyarakat di desa ini sangat nyata dan ada buktinya.

Papan nama Gereja Ismail ini dikerjakan oleh saudara mereka yang beragama Islam

Bukti yang paling nyata yang saya lihat langsung beberapa hari lalu adalah Gereja Ismail dan Masjid Ishak. Pak Sem, sekretaris jemaat Ismail bercerita kalau sekitar tahun 1946 ada empat kepala keluarga yang mendiami kampung Ilawe di Alila Timur ini. Empat keluarga ini kebetulan beragama Kristen.

Melihat kondisi keempat keluarga ini tidak memiliki rumah ibadah, masyarakat yang berada di sekitar kampung yang notabene beragama Islam berinisiatif untuk membantu mendirikan pos ibadah untuk mereka.

Dulu masih beratapkan alang-alang. Sekarang sudah berdiri kokoh sebagai bukti kerja sama erat antara penduduk Islam dan Kristen.

Tahun 1949 berdirilah pos ibadah pertama di Kampung Ilawe ini. Saat itu belum ada pendeta yang bisa melayani empat keluarga ini. Melihat keadaan tersebut, maka saudara mereka yang muslim berkeliling dari desa ke desa untuk mencarikan pendeta untuk melayani jemaat kecil itu. Pak Sem menambahkan kalau saat itu mereka berhasil menemukan pendeta.

Saat pembangunan gereja pun, jemaat yang beragama Islam turut bekerja. Mereka datang membawa semen, batu, dan peralatan bangunan yang mereka miliki. Saat papan nama gereja selesai dibuat, saudara muslim mengarak dan mengantar papan nama itu sambil ber-qosidah.

Cerita sebaliknya juga diceritakan oleh Pak Syahbandar, salah satu tokoh Islam di Ilawe. Beliau menuturkan bahwa saat pembangunan masjid yang kemudian dinamai Masjid Ishak ini, saudara Kristen juga turun tangan untuk membantu pembangunan sampai selesai.

Pak Syahbandar dengan senang hati bercerita tentang kerukunan antar umat agama di kampungnya

Selain itu, bentuk kebersamaan dan persaudaraan mereka juga sangat kental ketika perayaan hari raya maupun acara-acara penting. Misalnya saat merayakan Natal bersama gereja-gereja di sekitar desa, yang menjadi panitia acaranya adalah saudara Muslim.

Termasuk saat perayaan yang beragama Kristen seperti pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi), saudara Muslim yang jadi ketua panitia. Saya hampir tidak percaya dengan cerita beliau, tapi kenalan saya yang lain membenarkan cerita itu.

“Kalau Lebaran, saudara Kristen yang sibuk membuat kue dan menjadi petugas saat ada halal-bihalal.” Tambah Pak Syahbandar.

Masjid Ishak, Alila Timur, Pulau Alor, NTT.

Cerita tentang kerja sama dan tali persaudaraan yang erat ini membuat saya hampir tidak percaya di tengah situasi yang sedang tidak aman bagi kelompok pemeluk agama tertentu.

Saya pun menanyakan pendapat mereka mengenai kejadian-kejadian intoleran, pengeboman rumah ibadah, dan perpolitikan yang membuat orang berkelahi karena beda agama.

“Kalau di sini, kami rajin melakukan perkumpulan pemuda yang memang selalu mengingatkan dan menguatkan supaya tidak terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang dilihat di televisi.” Kata Pak Sem.

Berbeda lagi dengan Pak Syahbandar. Beliau sendiri suka pusing mendengar berita ada orang-orang yang bermusuhan hanya karena berbeda agama. Mengingat sepanjang umur beliau selalu menyaksikan kerukunan dan kerja sama yang erat, maka wajar Pak Syahbandar pusing tujuh keliling dengan pemberitaan di televisi itu.

Cerita perdamaian antar agama yang sangat erat di Pulau Alor ini memang bukan barang baru. Mereka sudah saling bersaudara sejak dulu kala, bahkan mereka tidak menganggap masalah kalau dalam satu keluarga pun agama mereka berbeda-beda.

Saya juga mendengar cerita kalau beberapa waktu silam ketika mereka mengetahui ada kelompok Islam fanatik yang datang ke Alor, mereka usir memang.

“Tidak ada tempat untuk orang-orang garis keras di Pulau Alor ini.” Ujar mereka.

Anggota Brimob yang kebetulan asli Alor datang dari Jakarta untuk jemput dan bawa pulang orang yang diduga kelompok garis keras itu. Waahh.. indahnya usaha mereka untuk memelihara perdamaian di Alor ya!

Anggota Brimob tersebut menjadi salah satu korban meninggal yang ditusuk oleh teroris di Mako Brimob beberapa waktu lalu.

Mudah-mudahan fondasi yang sudah begitu kuat di Pulau Alor ini tidak luntur oleh kepentingan-kepentingan jahat dari orang-orang yang hanya ingin merusak dan mengadu domba orang Indonesia.

Semoga Tuhan Semesta memberikan kekuatan kepada segenap orang dari Sabang sampai Merauke untuk merawat perdamaian dan toleransi.

Alor Barat Laut, 24.5.2018

Monik

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade